Aku ingin sekali punya sepeda. Teman-temanku sudah lihai
mengayuh pedal dan mengangkat roda depan. Sungguh keren sekali. Kalau
beruntung, aku akan menemukan gelas plastik bekas minuman kemasan di tanah-tanah
kosong sekitar kampung. Kupasang satu-satu di sepeda usang mereka. Dengan
begitu, aku tak terlalu segan ketika mereka meminjamkan sepedanya kepadaku
barang sepuluh menit.
“Bapak sudah pergi sejak pagi. Hari ini kamu bantu Ibu
membereskan ruang depan ya, Nak. Abang harus ke pasar mengantar pesanan orang.”
Pagi ini aku bangun tidur dengan secercah harapan. Kalau
Bapak pergi dan pulang membawa kursi, mungkin aku akan punya keberanian untuk
bilang ke Ibu. Aku sudah kelas empat. Aku ingin sekali punya sepeda.
Belum menginjak tengah hari, Bapak sudah kembali. Tak ada
mobil pick-up milik kawannya, ia hanya berjalan kaki. Diam-diam aku
patah hati.
Teman-temanku beruntung sekali mendapat sepeda bekas
abang-abangnya. Abangku tak pernah punya sepeda. Satu-satunya sepeda adalah
milik Ibu; dipakainya untuk ke pasar, mengantar pesanan, atau sesekali ke rumah
tetangga yang butuh bantuan. Kata ibu, sepeda itu milik Nenek dulu. Kalau tidak
ada sepeda Nenek, mungkin Ibu tidak bisa mencuci dan menyetrika baju di banyak
rumah dalam sehari.
***
Suatu sore, aku dan Abang berjalan kaki pulang dari sekolah.
Dari jauh aku melihat pintu rumahku yang sudah pecah-pecah dan sering menyangkut
di bajuku itu terbuka lebar. Tentu saja aku langsung berlari secepat kilat
masuk ke rumah. Benar saja, aku melihat Bapak sedang sibuk memasang karet sofa
dengan staples tembaknya. Ada dua sofa lain yang besar-besar sekali.
Aku bergegas menyisir dudukan sofa-sofa itu sebelum Abang
melihat. Belum setengah jalan, Abang melompat ke atas sofa dan menyusulku. Kami
menyelipkan jari-jari kami dengan cepat, seakan dikejar setan. Aku berteriak, menemukan
dua keping lima ratusan dan memamerkannya ke Abang. Tak lama kemudian Abang mendapat
selembar dua ribuan, sebuah peristiwa langka. Ia memberikannya kepadaku,
seperti yang selalu ia lakukan. Kami tertawa penuh kemenangan, Bapak masih
sibuk melanjutkan pekerjaan. Abang bergegas berganti baju dan membantu Bapak
memotong busa lembaran.
Malamnya aku beranikan diri mendatangi Ibu. Dua sofa besar
dan satu sofa kecil sepertinya cukup, pikirku.
“Abang, besok kita ambil sepeda di rumah Pak Agus, ya. Tadi
waktu bersih-bersih di rumahnya, Pak Agus menawarkan sepedanya yang dijual murah
karena sudah lama tidak dipakai. Abang kan tahun ini masuk SMA,
kejauhan kalau masih jalan kaki.”
Kalimat Ibu membuatku sedih. Tapi sekolah Abang besok memang
jauh sekali. Rasanya kasihan kalau Abang harus jalan kaki setiap hari.
Kuurungkan niatku. Mungkin menjelang lebaran nanti, saat kursi-kursi
berdatangan lagi. Atau mungkin nanti saat badanku sebesar Abang. Jadi aku bisa meminjam
sepedanya dan menaikkan roda depan seperti teman-temanku. Ah, sungguh keren
sekali.
Ibu menghampiriku dengan sepiring nasi hangat dan ayam goreng. Setidaknya setelah sekian lama, malam ini aku menyantap makanan favoritku dan mengantongi tiga ribu rupiah.
Bahagia sekali.