Wednesday, December 10, 2025

Aku Ingin Sekali Punya Sepeda

Aku ingin sekali punya sepeda. Teman-temanku sudah lihai mengayuh pedal dan mengangkat roda depan. Sungguh keren sekali. Kalau beruntung, aku akan menemukan gelas plastik bekas minuman kemasan di tanah-tanah kosong sekitar kampung. Kupasang satu-satu di sepeda usang mereka. Dengan begitu, aku tak terlalu segan ketika mereka meminjamkan sepedanya kepadaku barang sepuluh menit.

“Bapak sudah pergi sejak pagi. Hari ini kamu bantu Ibu membereskan ruang depan ya, Nak. Abang harus ke pasar mengantar pesanan orang.”

Pagi ini aku bangun tidur dengan secercah harapan. Kalau Bapak pergi dan pulang membawa kursi, mungkin aku akan punya keberanian untuk bilang ke Ibu. Aku sudah kelas empat. Aku ingin sekali punya sepeda.

Belum menginjak tengah hari, Bapak sudah kembali. Tak ada mobil pick-up milik kawannya, ia hanya berjalan kaki. Diam-diam aku patah hati.

Teman-temanku beruntung sekali mendapat sepeda bekas abang-abangnya. Abangku tak pernah punya sepeda. Satu-satunya sepeda adalah milik Ibu; dipakainya untuk ke pasar, mengantar pesanan, atau sesekali ke rumah tetangga yang butuh bantuan. Kata ibu, sepeda itu milik Nenek dulu. Kalau tidak ada sepeda Nenek, mungkin Ibu tidak bisa mencuci dan menyetrika baju di banyak rumah dalam sehari.

 

***

 

Suatu sore, aku dan Abang berjalan kaki pulang dari sekolah. Dari jauh aku melihat pintu rumahku yang sudah pecah-pecah dan sering menyangkut di bajuku itu terbuka lebar. Tentu saja aku langsung berlari secepat kilat masuk ke rumah. Benar saja, aku melihat Bapak sedang sibuk memasang karet sofa dengan staples tembaknya. Ada dua sofa lain yang besar-besar sekali.

Aku bergegas menyisir dudukan sofa-sofa itu sebelum Abang melihat. Belum setengah jalan, Abang melompat ke atas sofa dan menyusulku. Kami menyelipkan jari-jari kami dengan cepat, seakan dikejar setan. Aku berteriak, menemukan dua keping lima ratusan dan memamerkannya ke Abang. Tak lama kemudian Abang mendapat selembar dua ribuan, sebuah peristiwa langka. Ia memberikannya kepadaku, seperti yang selalu ia lakukan. Kami tertawa penuh kemenangan, Bapak masih sibuk melanjutkan pekerjaan. Abang bergegas berganti baju dan membantu Bapak memotong busa lembaran.

Malamnya aku beranikan diri mendatangi Ibu. Dua sofa besar dan satu sofa kecil sepertinya cukup, pikirku.

“Abang, besok kita ambil sepeda di rumah Pak Agus, ya. Tadi waktu bersih-bersih di rumahnya, Pak Agus menawarkan sepedanya yang dijual murah karena sudah lama tidak dipakai. Abang kan tahun ini masuk SMA, kejauhan kalau masih jalan kaki.”

Kalimat Ibu membuatku sedih. Tapi sekolah Abang besok memang jauh sekali. Rasanya kasihan kalau Abang harus jalan kaki setiap hari. Kuurungkan niatku. Mungkin menjelang lebaran nanti, saat kursi-kursi berdatangan lagi. Atau mungkin nanti saat badanku sebesar Abang. Jadi aku bisa meminjam sepedanya dan menaikkan roda depan seperti teman-temanku. Ah, sungguh keren sekali.

Ibu menghampiriku dengan sepiring nasi hangat dan ayam goreng. Setidaknya setelah sekian lama, malam ini aku menyantap makanan favoritku dan mengantongi tiga ribu rupiah.

Bahagia sekali. 




Friday, April 11, 2025

Terus Berjalan

Aku telah lama menyadari bahwa diri ini memiliki ego yang setinggi gedung-gedung pencakar langit di kota-kota metropolitan. Lalu ego-ego itu tumbuh semakin subur sejak aku menjadi ibu. 

Entah kemampuan ikhlas level apa yang dimiliki para ibu di masa lampau.

Saat suamiku tidak ada disampingku selama proses melahirkan, sungguh aku tak menyesalkan ketidakhadirannya. Bagaikan primata yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya sendiri, sedari awal aku tau konsekuensi untuk tidak bisa selalu bersama suamiku. Namun saat masalah hidup mencuat setelahnya, aku bisa begitu berharap ia ada di sampingku hari itu, hanya untuk melihat betapa luar biasanya perjuanganku melawan rasa sakit. Semata-mata agar peranku sebagai istri dan ibu untuk keluarga ini semakin tervalidasi. Bahwa aku bisa jadi lebih berkorban.

Kira-kira sebesar itulah egoku di waktu-waktu yang menyesakkan sebagai seorang perempuan. Dan banyak lagi yang dapat ku ceritakan dalam berlembar-lembar tulisan. Ah, sungguh pikiran busuk yang tak pernah ku harapkan ada padaku.

Di sisi lain, sasaran empuk dari semua egoku ini memang hampir selalu suamiku. Laki-laki bertubuh tinggi besar yang terlihat sekokoh bangunan Hindia Belanda. Laki-laki yang dikuasai oleh logika dan tanpa sadar selalu membangun benteng setinggi dan sebesar dirinya, agar keputusan-keputusannya tidak diserang perasaan-perasaan sentimentil. Laki-laki yang diperlakukan sebagaimana laki-laki di masanya dibesarkan; bahwa menjadi laki-laki berarti tidak membicarakan apa yang ia rasakan, atau bahkan, tidak berbicara sama sekali.

Pada dasarnya, ini adalah keangkuhan yang haus validasi beradu dengan pemikiran logis yang tak pandai berkata-kata. Entah dimana titik ujungnya.

Namun anehnya, dengan segala keruwetan itu, kami masih begitu mencintai satu sama lain.

Tanpa perlu saling banyak berucap, sejak kali pertama bertemu hubungan ini terasa terus memperbaiki dirinya sendiri.

Tanpa sadar kami mau untuk terus saling memahami.

Selangkah demi selangkah,

Kami yang mungkin terpisah di dua kutub yang berbeda ini perlahan terus berjalan ke titik tengah.


Lalu,

Setelah banyak definisi cinta yang ku alami sejak masa remaja,

Apakah cinta itu berarti terus berjalan?