Tuesday, January 27, 2015

Good Things My Parents Ever Gave Me

Saya baru saja menyadari hal-hal yang dilakukan orang tua saya sejak kecil dan berdampak besar pada saya hari ini. Hasil merenung di atas bukit, ternyata banyak sekali yang orang tua saya ajarkan melalui hal-hal yang tak saya sadari.


Sejak kecil membiarkan saya mengikuti apa pun aktivitas yang saya inginkan. Angklung, menggambar, paduan suara, karawitan, menari, piano, ensemble, senam lantai, pencak silat, basket, sepak bola, dan masih banyak lainnya. Membiarkan saya mengeksplorasi diri, terlibat dalam berbagai kelompok dan karakter, beradaptasi, mengikuti berbagai kompetisi, merasakan pahitnya kekalahan, dikecewakan, dan kemenangan.

Bepergian. Sejak kecil selalu bepergian. Hampir selalu dengan mobil. Menurut orang tua saya, satu hari libur saja adalah mubazir jika tak dihabiskan dengan bepergian. Bepergian membuat kita belajar banyak hal baru, menyadari ada dunia-dunia lain di luar kehidupan saya, membuka wawasan, dan menjadi lebih bijak dalam memandang sesuatu.

Tidak memanjakan dan menuruti semua keinginan saya. Saat masih kecil saya banyak mempertanyakan. Namun setelah dewasa, saya mengerti bagaimana manusia harus belajar kesederhanaan, kekecewaan, dan kenyataan bahwa kemudahan tak didapat dengan kemudahan.

Membaca. Orang tua saya adalah penggemar buku, dengan selera bacaannya masing-masing. Bapak dengan bacaan sejarah, politik, dan agama, Ibu dengan bacaan novel-novel terjemahan. Hal ini membuat saya menjadi terbiasa membaca, dan menyukai membaca. Sungguh, membaca adalah kunci jika anda ingin otak anda menguasai dunia. Membaca adalah awal dari pemikiran-pimikiran brilian, dan pada akhirnya, tindakan-tindakan yang bermanfaat.

Melucu. Entah yang satu ini masuk akal atau tidak, tapi orang tua saya senang melucu dan sedikit mewariskannya ke saya. Membuat saya menjadi lebih mudah bersosialisasi dan mudah diterima oleh orang-orang disekitar.

Membiarkan saya bergaul. Sejak mengenyam sekolah, orang tua saya membiarkan saya berteman dengan banyak orang, banyak golongan, banyak komunitas. Memberikan saya waktu lebih dari cukup untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang di luar. Bahkan akan sangat welcome dan bersemangat jika teman-teman berkunjung ke rumah. Orang tua saya mau mengenal teman-teman saya dan mau berteman dengan mereka dengan cara yang menyenangkan.

Mencintai tanah air. Tak secara gamblang, lugas, mau pun terus-terusan, namun kembali ke tanah air adalah jelas salah satu hal yang diajarkan oleh orang tua saya. Mungkin dari perbincangan seputar sejarah Indonesia dengan Bapak, atau cerita-cerita Ibu bahwa bagaimana pun kita, sehebat apa pun kelak, toh kita tetap orang Indonesia, dan harus kembali kesini.

Mungkin sesungguhnya masih banyak hal lain yang tak sempat terpikirkan, atau mungkin belum saya rasakan manfaatnya sekarang. Tapi seperti yang pernah saya tulis dulu, compared to even the most cherished of all of my life's memories, Bapak dan Ibu adalah hal yang terbaik yang pernah saya dapatkan. Karena dari mereka lah, saya mendapatkan hidup saya yang sekarang.

Wednesday, December 24, 2014

Inside the Pocket of Your Ripped Jeans

Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It is the only thing that makes us feel alive



Loving can heal, loving can mend your soul
And it's the only thing that I know, know
I swear it will get easier,
Remember that with every piece of you
And it's the only thing we take with us when we die


We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
And time's forever frozen still

So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans
Holding me closer 'til our eyes meet
You won't ever be alone

And if you hurt me
That's okay baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won’t ever let you go
Wait for me to come home

You can fit me
Inside the necklace you got when you were sixteen
Next to your heartbeat where I should be
Keep it deep within your soul

When I'm away, I will remember how you kissed me
Under the lamppost back on Sixth street
Hearing you whisper through the phone,
"Wait for me to come home."


Photograph - Ed Sheeran.




You look so wonderful in your dress
I love your hair like that
The way it falls on the side of your neck
Down your shoulders and back

We are surrounded by all of these lies
And people who talk too much
You got the kind of look in your eyes
As if no one knows anything but us


You look so beautiful in this light
Your silhouette over me
The way it brings out the blue in your eyes
Is the Tenerife Sea

And all of the voices surrounding us here
They just fade out when you take a breath
Just say the word and I will disappear
Into the wilderness

Should this be the last thing I see
I want you to know it's enough for me
'Cause all that you are is all that I'll ever need

I'm so in love, so in love
So in love, so in love

Lumière, darling
Lumière over me

You look so wonderful in your dress
I love your hair like that
And in a moment I knew you, Beth



Tenerife Sea - Ed Sheeran



Jadi ceritanya baru dengerin albumnya Ed Sheeran yang "X" pake headset panasonic super yoi malem-malem. Dan yaa dari dulu emang headset satu ini paling jagoan. Suaranya bersih sekali, jadi kebawa suasana lagu-lagunya.

Saya baca satu-satu liriknya. Dua lirik di atas ini rasanya sederhana namun manis sekali.

Penyusunan alur, tema lirik, dan pemilihan kata-kata lagu-lagu Ed Sheeran sangat mengingatkan saya pada gaya lirik lagu-lagu Jason Mraz, si tukang bikin lagu over productive favorit sepanjang masa. Ditambah detil-detil sederhana yang menguatkan, lalu makna-makna tersirat yang sengaja dibuat agar susah dipahami, wah mirip sekali mereka ini. Mungkin yang sedikit membedakan, milik Ed Sheeran terdengar lebih lugas.

Ah, sepertinya saya menemukan satu lagi penyusun lirik jagoan!



Thursday, November 13, 2014

Menuntut Ilmu, Menuntut Bahagia

Mahasiswa tapi masih gini-gini aja.
Mahasiswa katanya.
Namun mana nyatanya.

Saya sedih.
Tiga semester sudah, saya merasa perkuliahan tak seperti yang saya bayangkan.
Jauh.
Saya kira seorang mahasiswa sarat nafsu akan ilmu, belajar karena ingin tahu.
Nyatanya sama saja orientasi hanya pada IP bagus.

Saat semester satu, saya masih menikmati belajar karena ingin tahu. Meski nilai tak bagus-bagus amat, juga tugas melimpah ruah hingga tak tidur dan jarang makan, saya merasa senang menjalaninya. Saya bahagia karena mendapat ilmu yang konkret, yang bisa saya terapkan di kehidupan nyata. Setiap pulang kuliah, saya dengan menggebu-gebu akan menguliahi orang tua di rumah tentang ilmu yang saya dapat di kelas. Sungguh menyenangkan.

Namun lama kelamaan saya termakan sistem.
Entah kenapa saya menyadari kegiatan perkuliahan serasa tak menyenangkan lagi karena kebanyakan teman-teman saya melakuka hal sebaliknya. Semua orang berlomba-lomba mendapat nilai bagus. Sistem yang ada di kampus seperti mengarah ke ujian, bukan pada pemahaman ilmunya. Dampak umumnya, ya mulai dari permahaman mahasiswa yang nol besar sampai ke menghalalkan segala cara untuk IP cum laude. Dampak untuk saya, sekarang setiap saya menikmati menyerap ilmu dalam perkuliahan namun akhirnya nilai saya kalah dengan teman-teman lain yang mengejar nilai, saya jadi merasa gagal, merasa bodoh, merasa kalah, meski saya tahu yang saya rasakan ini salah. Namun apa daya jika lingkungan mengarahkan saya untuk berpikir begitu. Ketika nilai saya bagus pun, saya juga tak lagi bahagia. Saya tak lagi menikmati indahnya menyerap ilmu.


"Tolong perhatikan baik-baik karena ini pasti keluar di ujian."

Ah, kalimat sederhana, namun kerap diucapkan. Rasa-rasanya, karena terlau sering terdengar, kalimat sederhana ini jadi mendoktrin kami.

Saya tak mengatakan saya rajin atau pun cerdas. Hanya saja saya sedih dengan sistem ini.

Dan lebih sedih lagi,
karena saya belum mau berbuat apa-apa,
masih tergilas roda.

Tuesday, October 7, 2014

Hitung Bulan, Tahun, Entah

Saling tahu
Tapi saling menjaga kata
Saling mengerti
Tapi saling menjaga sikap

Seandainya ujar lubuk bisa berkelana sendiri
Seandainya ujar lubuk bisa saling bersapa
Tanpa harus meminta izin pikir untuk berucap

Sungguh kami ini dibatasi batas
Apalah batas ini
Setelah kupikir-pikir batasan ini konsep yang bodoh
Pemikiran akan batas mengatur kami, memaksa kami bersandiwara
Padahal saling tahu jati diri sebenarnya

Sandiwara ini bodoh
Tapi memang harus dijalani
Sampai batas runtuh
Atau buruknya, sebelum itu
Atau buruknya, ketakutanku terjadi lebih dulu
Sampai salah seorang menyerah, menghapus rias di wajah, dan turun panggung

Mungkin belum terjadi,
Namun rasanya hampir pasti terjadi
Suatu hari nanti
Bukan hitung hari, melainkan bulan, tahun, entah


Aku takut

Sunday, September 7, 2014

Permulaan yang Baru

Sepatu sudah berjalan jauh. Empat tahun sejak terakhir ia berhenti.
Ia selalu berjalan, tak jarang berlari, menggores badannya sana-sini.
Mana kenal ia lelah, meski dihajar susah.
Tak mau lagi ia banyak berhenti.
Tujuannya hanya satu.
Menyelesaikan perjalanan.
Entah berujung dimana.

Suatu ketika diguyur hujan. Hujan yang tak biasa. Hujan tak pernah dirasa.
Basah.
Dingin.
Berat.
Ia tak lagi berlari. Namun masih berjalan. Terus.

“Halo.”
Matahari menyapa.
“Halo juga.”
Sepatu membalas tanpa toleh dan henti langkah.
Masih berjalan. Terus.
Terus.
Sampai basah musnah.
Sampai dingin menyingkir.
Sampai hangat.
Sepatu berlari. Lagi.
Lama.

Lalu ia berhenti. Benar-benar berhenti. Sudah kubilang ia tak pernah berhenti sejak lama.
“Kenapa berhenti?” Matahari bertanya.
“Terima kasih.”
"Kenapa berhenti?"
“Aku ingin berterima kasih.”
“Ya. Lalu kenapa berhenti?”
“Mungkin aku tak ingin jalan lagi. Mungkin aku ingin disini. Berhenti. Denganmu.”
“Siapa bilang aku tak bersamamu jika kamu berjalan?”
“Sungguh?”
“Sejak dingin itu.”
“Selama ini?”
“Ya.”

Sepatu kini tau ia tak harus berhenti.

Satu langkah.
Dua langkah.
Ia lanjutkan perjalanannya.




“Ini permulaan dari perjalanan yang panjang, kita kan berjalan menuju tempat yang baru...” - Permulaan yang Baru



*credit to Jebraw and his song "Permulaan yang Baru"