Tuesday, August 11, 2026

Tara

Aku mengenal Tara bahkan jauh sebelum aku mengenal diriku sendiri.
Tara adalah orang yang mengajariku tentang bagaimana hidup dengan hati yang penuh.

Tara telah menjalani seluruh hidupnya sebagai orang yang menaruh banyak energi ke dalam perasaan.  Waktu kecil, Tara pikir semua orang sama sepertinya. Hidup dengan perasaan yang meluap-luap. Sampai akhirnya ia beranjak dewasa dan berteman dengan banyak orang.

Ternyata ia mulai kewalahan.
Di tengah perjalanannya, ia sadar, menjadi seorang yang perasa sungguh sangat melelahkan.

Satu waktu kepalanya tak bisa berhenti menduga-duga atas emosi negatif yang ia terima.
Lain waktu ia kewalahan membendung air mata saat seharusnya fokus menyampaikan untaian kata.
Kejadian remeh dan tidak penting pun bisa ia renungi hingga berhari-hari.
Belum lagi perkara mengutuk masa lalu dan menerka masa depan yang kerap menjadi terlalu dalam.

Aku tahu Tara tak suka terlihat cengeng. Tara juga tak suka terlihat lemah.
Perlahan ia mulai belajar mengendalikan perasaannya, karena selain melelahkan, menangis sehari lima kali juga bukan sisi kepribadian yang ingin ia hadirkan.

Butuh waktu yang sangat lama. Namun sekarang Tara sudah lihai mengucap kata perpisahan tanpa air mata. Ia juga sudah pandai menekan emosinya dengan memanggil logika saat perbincangan berganti arah. Paling tidak, sekarang ia tidak terlampau payah saat harus berinteraksi.

Tapi aku juga tahu, Tara tidak pernah benar-benar berubah. Ia masih menikmati kemampuan perasaannya, terutama di waktu-waktu ia sendiri.
Tara sadar, justru perasaanlah yang kerap menyelamatkan hidupnya. Ia tak mau menjadi orang yang bodoh dengan melewatkan kesempatan menjadi manusia paling beruntung di dunia.
Hatinya bisa dengan mudah berbunga-bunga, haru, termangu, atau rahayu hanya dengan melakukan hal sederhana;

Duduk di motor, menatap kabut bergerak di sela-sela rapatnya hutan,
Bersandar di pagar jembatan sambil memandang langit jingga,
Mendengarkan sebuah lagu sambil melihat orang berlalu-lalang,
Menonton film tanpa plot yang jelas tapi hati merasa dipeluk erat,

Aku kira, melakukan hal-hal seperti itu hanya bisa terjadi di film fiksi.
Tapi Tara, sejak kecil, bisa dengan mudah melakukan itu semua dan langsung merasa menjadi orang dengan hati paling penuh selepasnya.

Sungguh aku mengagumi Tara.
Ia mengingatkanku pada karakter-karakter fantasi yang berjuang untuk mengendalikan kekuatannya. Pada akhirnya, menjadi dewasa bukanlah tentang mengubah siapa diri kita, tetapi tentang bagaimana kita mengendalikan diri untuk menjadi manusia yang baik.

Ah.
Semoga suatu hari nanti aku bisa seperti Tara.


//

I knew Tara long before I even knew myself.
Tara was the one who taught me how to live with a heart full of feeling.

Tara had lived her entire life pouring immense energy into her emotions. As a child, she assumed everyone was just like her, living with overflowing feelings, until she grew up and began making friends with a wider circle of people.

It turned out to be overwhelming.
Along the way, she realized that being a deeply feeling person was exhausting.

At times, her mind couldn't stop overanalyzing the negative emotions she encountered.
At other times, she struggled to hold back tears when she should have been focusing on her words.
She would dwell on trivial, insignificant events for days on end.
Not to mention the tendency to curse the past and speculate about the future, thoughts that often plunged far too deep.

I know Tara disliked appearing weepy. She also hated looking weak.
Gradually, she learned to control her emotions; after all, aside from being exhausting, crying five times a day wasn't exactly the side of her personality she wanted to project.

It took a long time. But now, Tara is adept at saying goodbye without shedding a tear. She has also mastered the art of suppressing her emotions by calling upon logic whenever a conversation shifts direction. At the very least, she no longer falls apart during social interactions.

Yet, I also know that Tara never truly changed. She still cherishes her capacity to feel, especially when she is alone.
Tara realizes that it is precisely her emotions that often save her life. She refuses to be foolish enough to miss the chance to be the luckiest person in the world.
Her heart can easily bloom with joy, swell with emotion, drift into reverie, or find deep serenity through the simplest of things; Sitting on a motorbike, watching the mist drift through the dense forest,
Leaning against a bridge railing while gazing at the orange sky,
Listening to a song while watching people pass by,
Watching a movie with no clear plot, yet feeling a warm, tight embrace in her heart,

I used to think such things only happened in fiction.
But Tara, ever since she was little, could do all of that with ease, instantly feeling her heart swell with a sense of fullness afterward.

I truly admire Tara.
She reminds me of fantasy characters struggling to master their powers. Ultimately, growing up isn't about changing who we are, but about how we govern ourselves to become good human beings.

Ah.
I hope that one day, I can be just like Tara.





Wednesday, December 10, 2025

Aku Ingin Sekali Punya Sepeda

Aku ingin sekali punya sepeda. Teman-temanku sudah lihai mengayuh pedal dan mengangkat roda depan. Sungguh keren sekali. Kalau beruntung, aku akan menemukan gelas plastik bekas minuman kemasan di tanah-tanah kosong sekitar kampung. Kupasang satu-satu di sepeda usang mereka. Dengan begitu, aku tak terlalu segan ketika mereka meminjamkan sepedanya kepadaku barang sepuluh menit.

“Bapak sudah pergi sejak pagi. Hari ini kamu bantu Ibu membereskan ruang depan ya, Nak. Abang harus ke pasar mengantar pesanan orang.”

Pagi ini aku bangun tidur dengan secercah harapan. Kalau Bapak pergi dan pulang membawa kursi, mungkin aku akan punya keberanian untuk bilang ke Ibu. Aku sudah kelas empat. Aku ingin sekali punya sepeda.

Belum menginjak tengah hari, Bapak sudah kembali. Tak ada mobil pick-up milik kawannya, ia hanya berjalan kaki. Diam-diam aku patah hati.

Teman-temanku beruntung sekali mendapat sepeda bekas abang-abangnya. Abangku tak pernah punya sepeda. Satu-satunya sepeda adalah milik Ibu; dipakainya untuk ke pasar, mengantar pesanan, atau sesekali ke rumah tetangga yang butuh bantuan. Kata ibu, sepeda itu milik Nenek dulu. Kalau tidak ada sepeda Nenek, mungkin Ibu tidak bisa mencuci dan menyetrika baju di banyak rumah dalam sehari.

 

***

 

Suatu sore, aku dan Abang berjalan kaki pulang dari sekolah. Dari jauh aku melihat pintu rumahku yang sudah pecah-pecah dan sering menyangkut di bajuku itu terbuka lebar. Tentu saja aku langsung berlari secepat kilat masuk ke rumah. Benar saja, aku melihat Bapak sedang sibuk memasang karet sofa dengan staples tembaknya. Ada dua sofa lain yang besar-besar sekali.

Aku bergegas menyisir dudukan sofa-sofa itu sebelum Abang melihat. Belum setengah jalan, Abang melompat ke atas sofa dan menyusulku. Kami menyelipkan jari-jari kami dengan cepat, seakan dikejar setan. Aku berteriak, menemukan dua keping lima ratusan dan memamerkannya ke Abang. Tak lama kemudian Abang mendapat selembar dua ribuan, sebuah peristiwa langka. Ia memberikannya kepadaku, seperti yang selalu ia lakukan. Kami tertawa penuh kemenangan, Bapak masih sibuk melanjutkan pekerjaan. Abang bergegas berganti baju dan membantu Bapak memotong busa lembaran.

Malamnya aku beranikan diri mendatangi Ibu. Dua sofa besar dan satu sofa kecil sepertinya cukup, pikirku.

“Abang, besok kita ambil sepeda di rumah Pak Agus, ya. Tadi waktu bersih-bersih di rumahnya, Pak Agus menawarkan sepedanya yang dijual murah karena sudah lama tidak dipakai. Abang kan tahun ini masuk SMA, kejauhan kalau masih jalan kaki.”

Kalimat Ibu membuatku sedih. Tapi sekolah Abang besok memang jauh sekali. Rasanya kasihan kalau Abang harus jalan kaki setiap hari. Kuurungkan niatku. Mungkin menjelang lebaran nanti, saat kursi-kursi berdatangan lagi. Atau mungkin nanti saat badanku sebesar Abang. Jadi aku bisa meminjam sepedanya dan menaikkan roda depan seperti teman-temanku. Ah, sungguh keren sekali.

Ibu menghampiriku dengan sepiring nasi hangat dan ayam goreng. Setidaknya setelah sekian lama, malam ini aku menyantap makanan favoritku dan mengantongi tiga ribu rupiah.

Bahagia sekali. 




Friday, April 11, 2025

Terus Berjalan

Aku telah lama menyadari bahwa diri ini memiliki ego yang setinggi gedung-gedung pencakar langit di kota-kota metropolitan. Lalu ego-ego itu tumbuh semakin subur sejak aku menjadi ibu. 

Entah kemampuan ikhlas level apa yang dimiliki para ibu di masa lampau.

Saat suamiku tidak ada disampingku selama proses melahirkan, sungguh aku tak menyesalkan ketidakhadirannya. Bagaikan primata yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya sendiri, sedari awal aku tau konsekuensi untuk tidak bisa selalu bersama suamiku. Namun saat masalah hidup mencuat setelahnya, aku bisa begitu berharap ia ada di sampingku hari itu, hanya untuk melihat betapa luar biasanya perjuanganku melawan rasa sakit. Semata-mata agar peranku sebagai istri dan ibu untuk keluarga ini semakin tervalidasi. Bahwa aku bisa jadi lebih berkorban.

Kira-kira sebesar itulah egoku di waktu-waktu yang menyesakkan sebagai seorang perempuan. Dan banyak lagi yang dapat ku ceritakan dalam berlembar-lembar tulisan. Ah, sungguh pikiran busuk yang tak pernah ku harapkan ada padaku.

Di sisi lain, sasaran empuk dari semua egoku ini memang hampir selalu suamiku. Laki-laki bertubuh tinggi besar yang terlihat sekokoh bangunan Hindia Belanda. Laki-laki yang dikuasai oleh logika dan tanpa sadar selalu membangun benteng setinggi dan sebesar dirinya, agar keputusan-keputusannya tidak diserang perasaan-perasaan sentimentil. Laki-laki yang diperlakukan sebagaimana laki-laki di masanya dibesarkan; bahwa menjadi laki-laki berarti tidak membicarakan apa yang ia rasakan, atau bahkan, tidak berbicara sama sekali.

Pada dasarnya, ini adalah keangkuhan yang haus validasi beradu dengan pemikiran logis yang tak pandai berkata-kata. Entah dimana titik ujungnya.

Namun anehnya, dengan segala keruwetan itu, kami masih begitu mencintai satu sama lain.

Tanpa perlu saling banyak berucap, sejak kali pertama bertemu hubungan ini terasa terus memperbaiki dirinya sendiri.

Tanpa sadar kami mau untuk terus saling memahami.

Selangkah demi selangkah,

Kami yang mungkin terpisah di dua kutub yang berbeda ini perlahan terus berjalan ke titik tengah.


Lalu,

Setelah banyak definisi cinta yang ku alami sejak masa remaja,

Apakah cinta itu berarti terus berjalan?


Saturday, July 27, 2024

Menjadi Dewasa

Banyak orang mendambakan menjadi dewasa saat kecil. Mereka berlomba-lomba untuk tumbuh, seakan punya kuasa atas dimensi waktu dan melangkahinya. Dewasa terlihat seperti wahana bermain yang menyenangkan; dilengkapi dengan berbagai macam kebisaan tanpa batasan.

Tapi nyatanya, sejauh ingatan ini kugali, aku tak pernah punya ketertarikan untuk menjadi dewasa.

Saat kecil, keluarga besarku punya tradisi berkumpul di rumah simbah buyut di akhir minggu. Ketika kami para anak kecil sibuk berlarian mengejar satu sama lain, membuat benteng-benteng megah dari bantal, atau berebut kudapan manis di toples-toples kaca, aku terheran-heran bagaimana bisa orang-orang dewasa menghabiskan waktu hanya dengan duduk di kursi tua dan terus berbicara tanpa henti hingga larut malam. Hal yang benar-benar tak bisa kupahami. Sungguh membosankan. Aku berharap aku tak akan pernah menjadi seperti mereka.

Dua puluh tahun kemudian, aku mengecapnya.

Orang dewasa ternyata tak hanya membosankan, mereka juga penuh dengan ketidaktahuan.

Sayangnya, sekuat-kuatnya aku berbenah, pada akhirnya akan sia-sia.

Karena seperti halnya semua makhluk di bumi, ini adalah pengalaman pertama dan terakhirku menjadi dewasa.



Friday, June 14, 2024

Manusia Terkuat di Bumi

Siang itu aku bertemu dengan orang-orang baru. Beberapa rekan kerja yang seiring bergulirnya waktu teranggap sebagai keluarga. Empat orang, dua pasang suami istri.

Dari sepasang yang baru saja menikah, sangat bisa kutangkap menit-menit kehidupan yang mereka rayakan dari sorot matanya. Layaknya manusia yang baru saja mengalami peristiwa bahagia yang luar biasa, semua terasa mudah dan menyenangkan.

Adalah seorang wanita dan suaminya yang membuat pikiranku sedikit terbata. Hanya dengan menghabiskan beberapa jam bersama, aku bisa menyebutkan begitu banyak kehangatan. Sifat-sifat menjadi orang tua sepertinya lebih lekat dengannya dibandingkan aku. Kesimpulanku semakin bulat saat mengetahui begitu banyak kehilangan yang ia alami, termasuk kesempatan-kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Namun dari semua kehilangan itu, satu hal yang aku tahu, harapan tidak masuk di dalamnya.

***

Lain hari hidupku bersilangan dengan seorang teman lama yang bermulti peran menjadi seorang ibu dari anak istimewa. Sebuah peran yang mengungkap identitasnya sebagai manusia dengan kesabaran seluas samudra dan kekuatan melebihi dewa-dewa dalam mitologi negara Eropa tenggara. Hidupnya adalah medan peperangan; ia melawan hantaman ketakutan yang terus berusaha menaklukan sisa-sisa harapan. Dan sejauh ini, ia menang.

***

Bayangan dari cermin milikku kini sedang bekerja. Menilai diri sendiri dan orang di sekitarnya. Setiap wanita adalah ibu terbaik bagi anak-anaknya. Namun rasa-rasanya, beberapa dari kami memang telah dipilih dengan sengaja.

Sepertinya Tuhan telah dan sedang meninggikan derajat mereka, sebuah kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih mulia. Jika percaya keabadian setelah kematian, sungguh kurasa perjuangan mereka adalah sebaik-sebaiknya bekal untuk melampaui fana.

Terakhir,

Hormat kusematkan setinggi-tingginya kepada wanita; manusia yang ribuan tahun hidup dalam stereotip kerapuhan, justru karena kekuatannya tidak pernah menuntut pengakuan.