Thursday, February 19, 2015

How a Superhero Learns to Fly

She's got lions in her heart
A fire in her soul
He's a got a beast in his belly
That's so hard to control
'Cause they've taken too much hits
Taking blow by blow
Now light a match, stand back, watch them explode

When you've been fighting for it all your life
You've been struggling to make things right
That's how a superhero learns to fly

Wednesday, February 18, 2015

Ubah

Ini bukan tentang Ultraman Gaia
Atau Power Ranger Dino Charge
Bukan.
Bukan pula tentang perputaran
Akhirnya akan kembali lagi
Bukan.
Bukan pula perubahan fisika
Mempermainkan wujud zat cair
Bukan.
Ini seperti metamorfosis
Ulat pemakan menjadi kupu penyerbuk
Buruk menjadi indah
Ini seperti perubahan kimia
Ketela jadi tape
Kedelai menjadi tempe
Ini seperti....
Ah sebut saja ini seperti manusia
Manusia yang ingin mengangkat derajatnya
Manusia yang ingin lebih bermanfaat
Manusia yang ingin lebih bahagia dalam arti yang sesungguhnya
Manusia yang ingin berubah
Begitulah.


Friday, February 13, 2015

Let Me

Rasanya tidak ingin apa pun.

Ah. Kecuali.

Kecuali duduk diam, menulis beberapa kata, dan kembali diam.

Diam.

Berpikir.

Lalu diam.

Lagi.

Wednesday, February 11, 2015

Marah dan Menyerah, Tidak.

Seharusnya tidak berakhir begini..



Tapi tunggu.
Memangnya siapa yang menentukan keharusan?
Mungkin harus-ku, harus-mu, harus-nya, dan harus orang lain berbeda.
Mungkin harus memang tak bisa diseragamkan
Mungkin harus yang menjaga adanya perbedaan, untuk berkaca, lalu menyobek beberapa lembar atau menuliskan beberapa paragraf baru

Mungkin kali ini giliran saya berkaca. Atau Anda?

Tapi tunggu.
Mungkin ini bukan akhir.
Masih banyak senyum yang harus kucipta
Masih banyak cita yang harus kucapai
Masih banyak manfaat yang harus kubuat

Sungguh bodoh terjerumus dalam kata "akhir"



Seharusnya semua berhak menentukan awal..

Tuesday, January 27, 2015

Good Things My Parents Ever Gave Me

Saya baru saja menyadari hal-hal yang dilakukan orang tua saya sejak kecil dan berdampak besar pada saya hari ini. Hasil merenung di atas bukit, ternyata banyak sekali yang orang tua saya ajarkan melalui hal-hal yang tak saya sadari.


Sejak kecil membiarkan saya mengikuti apa pun aktivitas yang saya inginkan. Angklung, menggambar, paduan suara, karawitan, menari, piano, ensemble, senam lantai, pencak silat, basket, sepak bola, dan masih banyak lainnya. Membiarkan saya mengeksplorasi diri, terlibat dalam berbagai kelompok dan karakter, beradaptasi, mengikuti berbagai kompetisi, merasakan pahitnya kekalahan, dikecewakan, dan kemenangan.

Bepergian. Sejak kecil selalu bepergian. Hampir selalu dengan mobil. Menurut orang tua saya, satu hari libur saja adalah mubazir jika tak dihabiskan dengan bepergian. Bepergian membuat kita belajar banyak hal baru, menyadari ada dunia-dunia lain di luar kehidupan saya, membuka wawasan, dan menjadi lebih bijak dalam memandang sesuatu.

Tidak memanjakan dan menuruti semua keinginan saya. Saat masih kecil saya banyak mempertanyakan. Namun setelah dewasa, saya mengerti bagaimana manusia harus belajar kesederhanaan, kekecewaan, dan kenyataan bahwa kemudahan tak didapat dengan kemudahan.

Membaca. Orang tua saya adalah penggemar buku, dengan selera bacaannya masing-masing. Bapak dengan bacaan sejarah, politik, dan agama, Ibu dengan bacaan novel-novel terjemahan. Hal ini membuat saya menjadi terbiasa membaca, dan menyukai membaca. Sungguh, membaca adalah kunci jika anda ingin otak anda menguasai dunia. Membaca adalah awal dari pemikiran-pimikiran brilian, dan pada akhirnya, tindakan-tindakan yang bermanfaat.

Melucu. Entah yang satu ini masuk akal atau tidak, tapi orang tua saya senang melucu dan sedikit mewariskannya ke saya. Membuat saya menjadi lebih mudah bersosialisasi dan mudah diterima oleh orang-orang disekitar.

Membiarkan saya bergaul. Sejak mengenyam sekolah, orang tua saya membiarkan saya berteman dengan banyak orang, banyak golongan, banyak komunitas. Memberikan saya waktu lebih dari cukup untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang di luar. Bahkan akan sangat welcome dan bersemangat jika teman-teman berkunjung ke rumah. Orang tua saya mau mengenal teman-teman saya dan mau berteman dengan mereka dengan cara yang menyenangkan.

Mencintai tanah air. Tak secara gamblang, lugas, mau pun terus-terusan, namun kembali ke tanah air adalah jelas salah satu hal yang diajarkan oleh orang tua saya. Mungkin dari perbincangan seputar sejarah Indonesia dengan Bapak, atau cerita-cerita Ibu bahwa bagaimana pun kita, sehebat apa pun kelak, toh kita tetap orang Indonesia, dan harus kembali kesini.

Mungkin sesungguhnya masih banyak hal lain yang tak sempat terpikirkan, atau mungkin belum saya rasakan manfaatnya sekarang. Tapi seperti yang pernah saya tulis dulu, compared to even the most cherished of all of my life's memories, Bapak dan Ibu adalah hal yang terbaik yang pernah saya dapatkan. Karena dari mereka lah, saya mendapatkan hidup saya yang sekarang.