Friday, September 18, 2015

Sad

I easily cry for things that emotional.

And 2 days ago, I had that kind of thing. The same thing I ever had when I was in high school, yet this time, it's more emotional for sure.

Two days ago, there was a match and I was so sure we would win that thing. But then it happened, and everyone in the team refused to put me in again. They insisted, I couldn't do anything. And we lose the game.

I cried. I was mad. Extremely mad. But I wasn't mad at them. I knew they did it because they care about me and I still got a lot of tournament ahead. I'm mad because I had no one to blame it on, and I'm pretty sure I will miss a lot games, especially a tournament that I've been waiting for since last year. This situation, I hate it. I hate it to the core. 

Oh I love basketball so much. And it has never been easy to be the one hobbling around and watch the others playing.

When someone told me not to think about playing and focus on the medication, I'm sad.

Now, even when I'm joking, laughing, and playing around, even when I'm happy,

I'm sad.


Tuesday, September 8, 2015

Suatu Hari Mimpiku Tertambat Disana

Saat SMP, aku membaca sebuah buku. Novel pertama dengan harga lumayan mahal yang kupilih sendiri. Jungle Child.
Aku benar-benar terpesona akan kehidupan yang ada di dalamnya. Sebuah kisah nyata bocah eropa yang hidup di pedalaman Papua. Aku jatuh cinta dengan kehidupan yang ia punya.

---

Saat SMA, dari banyak membaca dan menonton film aku mulai percaya akan pendidikan yang seharusnya merata. Aku percaya semua anak Indonesia berhak mendapat ilmu yang sama. Dan hal yang mulai kucintai, yang sering dituduh berbahaya, aku percaya mereka hanya tak mendapat hak yang setara.

---

Papua, aku jatuh cinta!
Dan cinta ini semakin meluap-luap setiap harinya!

Jika ditanya cita-cita, aku tak pernah bisa menjawab. Yang jelas, jangka panjang nanti, aku ingin bermanfaat untuk Papua. Aku ingin pendidikan yang layak sampai kesana. Aku ingin Indonesia, dari ujung barat ke ujung timur sama pintarnya!

Aku ingin kakiku sampai disana. Meski cicilanku hingga saat ini masih sebatas cerita.

---

Di awal perkuliahan, aku bertemu seorang perempuan jawa yang beberapa tahun tinggal di Papua. Baru beberapa jam kami kenal, aku ceritakan semua mimpiku, dan ia menyambutnya dengan gembira. Meletup-letuplah cerita keluar dari pengalamannya, meletup-letuplah telingaku menyimak tiap katanya.

Lalu muncullah seorang kawan satu kelas yang lahir dan besar di Nabire. Laki-laki ini sungguh membuatku terharu, kagum, geli, malu, bercampur teraduk jadi satu. Kawanku ini jauh lebih sopan dariku, jauh lebih pekiwuh dariku, jauh lebih tekun dariku, dan yang jelas jauh lebih sederhana dan apa adanya. Meski komunikasiku dan dia tidak lancar, aku sering bertanya tentang kampung halamannya, keluarganya, dan hal-hal tentang rumahnya yang dua tahun tak ditengoknya. Hebat benar kawanku satu ini.

Pernah satu seniorku kembali dari kampung halamannya di Papua. Rupanya ia membawa beberapa gelang asli dari sana. Hari itu, untuk pertama kalinya aku mendapatkan barang asli dari Papua. Kupakai dan sama sekali tak pernah kulepas gelang itu, sampai akhirnya rusak.

---

Tak mungkin aku pergi kesana dalam waktu dekat. Selain biaya yang tak sedikit, tak ada motif yang cukup kuat yang bisa membawaku kesana.

Kemudian masa KKN bagi 2011 tiba.
Kemudian aku berpikir.
Ini kesempatanku.
KKN di tanah Papua!

Pernah sekali kuungkapkan niatku untuk KKN di Papua, namun ditolak mentah-mentah oleh orang tua.

Tahun ini, seorang senior 2012 pulang KKN dari Papua membawa gelang, beberapa foto, dan banyak cerita untukku. Sebenarnya, aku yang memaksanya bercerita. Setiap penggal kalimatnya membuatku kembali terbawa imajinasi. Setiap katanya membuatku kembali terhipnotis oleh mimpi.

Tekadku kembali bulat. Ini strategi baruku: yakinkan diri, kemudian yakinkan orang tua. Ku kumpulkan cerita sebanyak-banyaknya, kemudian kuceritakan kembali ke orang tuaku. Semoga satu tahun bercerita cukup untuk mengubah pikiran orang tuaku hahaha.

Ini semangat mengabdi, Pak, Bu!

---

Tuhan,
Semoga Kau peluk mimpiku.

---


Suatu hari aku tak bisa menolak
Suatu hari aku tak tahu sebab
Suatu hari aku tak ingat saat
Suatu hari mimpiku tertambat disana

Suatu hari kubayangkan senyum anaknya
Suatu hari kubayangkan biru lautnya
Suatu hari kubayangkan gelap hutannya
Suatu hari mimpiku tertambat disana

Suatu hari aku jatuh cinta karena tanya
Suatu hari aku jatuh cinta karena kuasa
Suatu hari aku jatuh cinta karena percaya
Suatu hari mimpiku tertambat disana

Suatu hari aku akan ada disana



photo credit to Mas Tedjo dan tim KKN Supiori, Papua.

Tuesday, July 14, 2015

Just A Song I Fall in Love with



Spirit of my silence I can hear you
But I’m afraid to be near you
And I don’t know where to begin
And I don’t know where to begin

Somewhere in the desert there’s a forest
And an acre before us
But I don’t know where to begin
But I don’t know where to begin
Again I’ve lost my strength completely, oh be near me,
Tired old mare with the wind in your hair

Amethyst and flowers on the table, is it real or a fable?
Well I suppose a friend is a friend
And we all know how this will end

Chimney swift that finds me, be my keeper
Silhouette of the cedar
What is that song you sing for the dead?
What is that song you sing for the dead?
I see the signal searchlight strike me in the window of my room
Well I got nothing to prove
Well I got nothing to prove

I forgive you, mother, I can hear you
And I long to be near you
But every road leads to an end
Yes every road leads to an end
Your apparition passes through me in the willows:
Five red hens—you’ll never see us again
You’ll never see us again

Sunday, May 31, 2015

Nasib Puisi Gagal

Beberapa kata yang sudah lama saya susun secara iseng ini secara iseng pula saya kirimkan ke salah satu lomba puisi bermodal 15.000 rupiah tiap puisinya.

Sudah bisa ditebak namanya penulis iseng mana bisa menyaingi penulis-penulis jebolan ilmu budaya sana hehehe. Jadi ini puisi saya bocorkan ke sini saja ya, berhubung ada yang rikues untuk update blog juga.

Yang satu saya tulis di awal semester 3, ketika saya ingin sekali berubah, tak puas dengan pribadi yang begini-begini saja.
Yang satu lagi saya tulis karena ingin merepresentasikan kata-kata orang tentang jatuh cinta. Betapa bertemu idola bisa membuat lupa logika.



Menjadi Baik

Ini apa?
Menanam baru?
Atau mencabut lama?
Aku apa?
Padang rumput?
Atau pohon kelapa?



Jumpa

Berbicara lewat kaki
Telinga kiri mengecap gula
Menghitung rumus, hati
Otakku bergelora
Lidahku dengar musik rock
Tangan melihat negara bobrok
Kamu mencari logika?
Sudah lama kutinggal ia

Friday, April 10, 2015

Ngomong Soal Banjir Jakarta


Empat semester di Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM. Sudah beberapa mata kuliah tentang air. Sungguh ilmu yang satu ini hitungannya sangat tak manusiawi. Namun pemahaman dan manfaatnya memang sedikit membuat hati saya terpikat. Salah satunya ketika hampir semua dosen mata kuliah air di awal perkuliahan akan bercerita tentang banjir Jakarta.


Ah, lagi-lagi kombinasi dua kata itu. Banjir. Jakarta.

Saya memang bukan penghuni ibu kota, namun rasa-rasanya semua orang familiar dengan "frase" tersebut. Entah kapan dua kata itu bisa dipisahkan.

Lalu, kenapa sih Jakarta banjir?

Menurut cerita dari beberapa dosen saya di kelas, ternyata banyak hal yang menyebabkan suatu daerah menjadi rawan banjir, khususnya di Jakarta. Saya mau cerita beberapa diantaranya.

Curah hujan
Jakarta memang memiliki curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Jogja. Tingkat curah hujan di Jakarta bisa dua kali lipat curah hujan di Jogja.

Jenis tanah
Tanah memiliki kemampuan untuk meloloskan air, atau bahasa ilmiahnya, permeabilitas. Berbeda jenis tanah, berbeda pula koefisien permeabilitasnya. Sebagai contoh, jika kita menuangkan air ke tanah lempung, air pasti akan menggenang dan butuh waktu lama untuk terserap. Berbeda jika kita menuangkan air ke tanah berpasir, tentu air akan cepat terserap ke dalam tanah. Kira-kira begitulah kondisi tanah di Jakarta dibandingkan dengan di Jogja.
Dalam waktu 1 jam, ketinggian genangan di Jogja akan turun sekitar 30 cm. Sedangkan di Jakarta, mungkin hanya 0,000001 cm.

Elevasi tanah
Sebagian wilayah Jakarta memang dataran rendah, bahkan elevasinya berada di bawah permukaan laut. Sudah seperti mangkuk saja haha.

Tata guna lahan
Ketika hujan turun, sebagian air akan meresap ke tanah, sebagian lainnya akan mengalir/melimpas. Perbandingan jumlah air yang melimpas dan jumlah air hujan yang turun disebut keofisien limpasan. Semakin tinggi koefisien limpasan, tentu akan semakin rawan terjadi genangan.
Sekarang anda bisa bayangkan bagaimana permukaan tanah di Jakarta telah banyak tertutup lapisan beton, menyebabkan koefisien limpasannya tinggi. Bandingkan dengan daerah yang sawah dan hutannya masih terjaga.

Sesungguhnya Jakarta ini memang telah dianugerahi kondisi alam yang bakat banjir ya hehe


Lalu, ada 13 sungai yang melintasi Jakarta, yang salah satunya paling terkenal memprihatinkan adalah Sungai Ciliwung. Padahal, zaman dulu seorang pedagang Perancis pernah menuliskan bahwa Sungai Ciliwung memiliki air paling bersih dan paling baik di dunia. Kayak mimpi ya? Hahaha.

Jika anda tau kanal barat dan kanal timur yang dibuat untuk mengalirkan air sungai lewat luar Jakarta, meski terus dikembangkan oleh pemerintah Indonesia, namun gagasan awalnya bukan dari kita, melainkan dari pemerintah Belanda pada masa penjajahan dulu. Gagasan itu rilis tahun 1920 setelah 2 tahun sebelumnya terjadi banjir besar. Itu berarti, tahun 1918 Jakarta sudah dilanda banjir besar. Bahkan di tahun 1600-an Jakarta juga sudah mengalami banjir.

Hikayat banjir Jakarta dari era Jenderal Coen sampai Jokowi


Pencegahan banjir yang berupa fisik saat ini juga pasti sulit. Untuk sekedar membuat kolam retensi/embung di Jakarta, saya sudah bisa membayangkan keruwetannya. Pasalnya, proyek-proyek pembangunan seperti itu biasanya separuh dari anggarannya adalah untuk pembebasan lahan. Sudah sering lihat alotnya pembebasan lahan di berita-berita, kan?

Baru ngurusin air saja sudah begini. Sudah kondisi alam tidak mendukung, ditambah masalah-masalah yang timbul akibat kepadatan penduduk saat ini, penyempitan sungai, sampah, sistem drainase, dll., wah nggak bayangin pusingnya jadi gubernur Jakarta hahahaha


Ikut pusing ya jadinya :))


Boleh sih mikir pusing, ribet, repot, semrawut, dan lain lain, tapi kita tetep harus melek soal beginian. Saya cuma menghimpun info dan memaparkan ulang saja, supaya paling tidak, bertambah orang-orang yang mengerti tentang kerepotan di ibu kota sana, yang mungkin bisa terjadi di depan rumahmu jika tidak dipahami.

Koreksi saya jika ada yang salah. Apalah arti tulisan seorang mahasiswa semester 4 yang nilai mata kuliah hidrologinya saja pas-pasan.


Semoga semakin banyak di luar sana yang mau peduli air.

Sumber:
Kuliah Pak Joko, Pak Rahmad, Pak Budi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kanal_Banjir_Jakarta
http://koran-jakarta.com/?3813-akar%20banjir%20jakarta
http://green.kompasiana.com/polusi/2012/12/04/kontroversi-sungai-ciliwung-dan-kampung-deret-508086.html
http://www.tempo.co/read/kolom/2015/02/23/1963/Sejarah-Banjir-Jakarta
http://www.satire-indonesia.com/2015/02/berita-satire-banjir-jakarta-februari-2014.html
http://forum.detik.com/foto-foto-jakarta-dan-sekitarnya-tempo-dulu-posting-aja-kesini-t19743p49.html