Tuesday, March 15, 2016

Perbincangan Bergizi

Pertengahan Februari lalu saya berkunjung ke ibu kota bersama beberapa teman baru.
Kami kebetulan baru saling berkomunikasi dan mengenal satu sama lain selama kurang lebih beberapa minggu saja.

Singkat cerita, malam itu saya dan dua orang teman "terjebak" dalam sebuah percakapan setelah makan malam di sebuah mall di Bogor. Dan malam itu, setelah beberapa topik bahasan yang cukup ringan bahkan terkadang tidak relevan, kami mulai beranjak ke sebuah topik yang cukup lucu:

"Menurutmu, apa yang salah dengan Indonesia saat ini?"

Wah, sekelompok mahasiswa ingusan semester 6 berusaha memecahkan permasalahan fundamental bangsa.

Lucu kan?

Dengan background pendidikan kami yang amat sangat berbeda, ditambah pengamatan masing-masing, kami mengutarakan pendapat dan berdiskusi. Like, literally, diskusi untuk berbenah secara realistis dan apa yang akan kita lakukan nanti ketika kerja untuk memulai semua itu.

Hahahahaha

Aku kangen punya temen yang bisa diajak berbicara bahasan-bahasan sampah, namun juga concern di topik-topik masif dan krusial. Yang asik diajak bercanda, tapi juga seru diajak berpikir kritis dan membincangkan sesuatu yang mungkin banyak orang menganggap kaku atau terlampau serius.

Menurutku, that kind of conversation lumayan menyehatkan, bergizi, dan terkadang menjadi pengingat diri sendiri untuk terus bergerak maju.

Dulu di SMA pernah punya teman-teman yang seperti itu.
Semoga lain waktu bisa "terjebak" lagi dengan orang dan topik yang sama serunya.

Wednesday, March 2, 2016

Watching Indonesian League & Febri really help me though.

Aku sedang suntuk dan ingin menulis.

Ini tentang aku dan basket.

Aku memang bukan pemain yang handal, yang menggantungkan hidupku pada olahraga ini. Namun aku tidak pernah bisa lepas darinya.
Aku mengenal bola basket sejak kecil. Bahkan sejak bangku sekolah dasar aku beberapa kali mengikuti pertandingan dan memenangkannya. Di bangku SMP, aku terus bermain. Aku mulai bergabung di klub, beberapa kali bertanding untuk kelompok umur di atasku, dan terlibat seleksi wilayah.

Di bangku SMA, hal itu terjadi.
Aku sudah lupa bagaimana sakitnya. Yang jelas, ketika tubuhku dihantam lawan dan jatuh tersungkur, rasa sakitnya sampai membuatku berteriak hingga supporter sekolahku yang memenuhi tribun seketika terdiam dan memandang ke arahku. Aku ingat betul hari dan tanggal dimana ACL lutut kananku putus.

Sayangnya, saat itu aku tidak menangani cedera itu dengan baik.
Setelah pengobatan sederhana dan merasa bisa beraktivitas, aku kembali bermain basket meski tau ada sesuatu yang salah dengan lutut kananku sejak hari itu. Aku tetap bermain, meski tak lagi bisa seagresif dulu. Saat itu, permainanku yang terbatasi oleh lutut yang rawan kambuh sedikit membuatku terpukul.

Sejak meninggalkan klub saat SMP, aku belum pernah berlatih bersama tim dengan porsi latihan yang cukup berat dan kemampuan rata-rata di atasku. Di bangku kuliah, setelah beberapa kali penjajakan, aku menemukan sebuah lingkungan latihan yang pas. Saat bergabung dengan tim ini, aku merasa sangat bersemangat untuk kembali bermain dengan total, karena lingkungannya sangat menuntutku untuk berkembang. Sayangnya, tim ini hanya aktif satu tahun sekali menjelang sebuat turnamen antar fakultas. Setelah satu kali melakoni turnamen, aku merasa berkembang dan sangat bahagia menjalani prosesnya. Aku sangat menantikan bermain bersama tim ini untuk kedua kalinya. Namun akhirnya aku gagal bergabung karena sebuah musibah.

Hari itu, beberapa bulan yang lalu, ACL lutut kiriku putus.

Aku terpukul luar biasa.

Kali ini aku menyadari cedera ini terjadi karena kesalahanku. Sebelum pertandingan itu aku tak punya cukup persiapan dan latihan padahal beberapa bulan aku tidak olahraga serius. Kondisi tubuhku overweight, dengan lutut kiri yang harus bekerja lebih keras karena lutut kananku sudah tidak bekerja dengan normal. 

Aku baru tau, rasanya divonis dokter putus ligamen itu jauh lebih sakit dibanding putus pacar versi mana pun.

Jika hidup ini mempunyai beberapa turning point, hari dimana aku divonis dokter sebagai manusia tanpa ACL adalah salah satu turning point yang membawa hidupku terjun ke bawah. Sangat dalam.

Kini aku memang bisa beraktivitas layaknya manusia biasa. Namun, dengan dua lutut tanpa ligament, dokter jelas tidak menyarankan aku untuk berolahraga selain bersepeda dan berenang.
Untuk bisa kembali menyentuh bola basket, aku harus melakoni operasi dengan masa penyembuhan 8 bulan dan biaya yang tidak sedikit. Dua kali, kanan dan kiri. Dan aku bukan lah pemain profesional yang bisa dengan mudahnya berkata "minggu depan operasi di Filipina" macam Pringgo atau Wisnu karena itu memang prioritas utama mereka.

Sekali lagi, biayanya tidak sedikit. Aku tak mau buru-buru menuntut orang tuaku untuk hal yang bukan prioritas dalam hidupku, meski aku mencintai basket. God I love basketball so much I literally cry every time I talk about this thing..
Aku sadar aku masih harus menyelesaikan studi. Dan aku punya kegiatan perkuliahan yang harus kuatur jadwalnya sedemikian rupa sehingga kalau pun nanti memutuskan untuk operasi, masa penyembuhannya tak mengganggu studiku. Aku sadar, hal yang aku cintai ini bukan prioritas utama dalam hidupku.

Tapi aku rindu.

Aku rindu tertawa bersama rekan satu tim, terengah-engah lelah memegangi perut, bunyi decitan sepatuku dengan lapangan, tatapan membara pelatih saat time out ketika musuh memimpin, teriakan cacian hinaan pelatih saat turn overku bertambah, usapan tangan pelatih di kepalaku ketika mereka bangga padaku, uluran tangan rekan satu tim saat aku memberinya assist, dan hal-hal lain yang tak bisa kudapatkan lagi sekarang.

Aku rindu.
Basket membesarkanku. Basket memberiku banyak hal. Terlalu banyak. Teman, keluarga, tawa, tangis, sakit, semangat, malu, bangga, dan banyak hal lain.

Mungkin ini saatnya aku berhenti meminta.
Mungkin ini saatnya aku duduk, beristirahat, dan mencari.
Menikmati permainan sebagai seorang penonton, memahami makna dari sudut pandang orang ketiga.


Tapi, ketika tiba-tiba aku sedih dan menangis lagi,
Jangan paksa aku untuk berhenti rindu.

Monday, February 29, 2016

Sembilan Hari Bahagia di Yogyakarta

"Nanti malem yang main bagus nggak? Ibu pengen nonton."
"Ayo, Dek, nonton."
"Nanti malem jadi nonton to?"
Dan akhirnya, meski aku sendiri tak berencana nonton, malam itu kami berangkat ke GOR tanpa peduli tim apa yang berlaga. Aku tau pasti, Ibu tidak tau banyak tentang tim dan pemain. Ibu banyak bertanya kepadaku di perjalanan pulang.

Big match terakhir di Jogja, Ibu datang sendirian ke GOR naik motor dan duduk sendiri di tangga tribun sampai pertandingan selesai, setelah itu pulang tanpa menemuiku. Padahal aku juga ada disana sejak sore bersama teman. Ibu ke GOR benar-benar karena ingin nonton.

Jadwal ibu yang terkadang suka ngaco langsung pengen nonton, pertanyaan-pertanyaan bertubi tentang dunia basket Indonesia, apalagi harus dijelaskan berulang karena terkadang satu kali penjelasan susah dimengerti Ibu, hal-hal ini awalnya sempat membuat aku risih.


----------


Suatu hari setelah pertandingan besar berakhir, aku dan mobilku terjebak di tengah-tengah motor yang terparkir. Hujan. Dan motor-motor itu tak kunjung pergi.
Para pengendaranya sedang berhujan-hujan 15 meter dari mobilku, menunggu pemain-pemain idolanya keluar dari GOR. Bisa ku lihat dan ku dengar dengan jelas dari dalam mobil selama kurang lebih satu jam, satu per satu pemain keluar diiringi jerit kagum terkadang histeris.
Satu jam yang awalnya sempat memancing emosiku.


----------


Harus diakui, komentar-komentar cheesy di GOR kadang annoying juga. Apalagi tipikal wanita-wanita penggemar yang nggak ngerti sama sekali tentang basket dan akhirnya komen-komen berisik annoying tanpa bisa ngerti keseruan game atau bahkan mengganggu kenikmatan game. Harus diakui hahaha.
Hal ini, awalnya juga sempat kerap membuatku risih.


-----
---------------
-----



Saya mulai hobi menonton IBL sejak SMP.
Dan liga basket nasional milik Indonesia, apa pun namanya, siapa pun promotornya, memiliki makna bagi saya.

Melihat perjuangan sebuah liga nasional, jatuh bangun, dan sampai di titik ini, sebagai seorang yang menikmati pertandingan basket, saya mempunyai cita-cita yang sama dengan para pemain dan tim yang bergelut disana.

Saya ingin basket untuk Indonesia.
Saya mendukung IBL.

Motivasi saya sederhana.
Saya mencintai olahraga ini. Sebagai manusia tanpa ACL sejak tahun lalu, yang bisa saya lakukan hanya menikmati pertandingan. Saya punya tim favorit. Saya punya pemain idola.
Saya ingin Indonesia mencintai olahraga ini.
Saya ingin tim favorit saya terus bergerak.
Saya ingin pemain idola saya bermain dengan baik dengan jaminan kehidupan yang layak. Karena sedih membaca cerita tentang mereka di masa sulit IBL dulu.

Sekarang, saya optimis.
Kejadian-kejadian di awal tulisan ini, adalah hal-hal ganjil, yang setelah saya telaah lebih lanjut adalah sebuah tanda.
Tanda bahwa olahraga ini sedang menyusup ke setiap celah. Memikat setiap kalangan. Dan setiap orang, bebas menikmatinya dengan alasan dan motivasinya masing-masing.
Saya bahagia melihat tribun GOR yang penuh.
Saya bahagia melihat seorang ibu dan anak balitanya duduk asik menonton pertandingan.
Saya bahagia melihat IBL punya salary cap!
Saya bahagia melihat cewek-cewek fanatik berteriak dibalik barikade pintu pemain.
Saya bahagia IBL kembali bisa tayang di televisi.
Saya bahagia melihat orang yang nggak ngerti apa-apa tentang basket beli tiket dan nonton pertandingan demi liat ke-cihuy-an Prastawa atau Kelly.

Intinya, saya bahagia!
Mari ramaikan liga, tingkatkan animo, raih prestasi untuk negeri!

Saya optimis basket untuk Indonesia!


P.S.
Saya juga optimis Aspac juara tahun ini, dan Febri tetap idola saya sepanjang masa! :p

Wednesday, January 27, 2016

Aku Rindu

Sudah hampir empat tahun sejak 9 Juli 2011.

Bapak,
Saya rindu..

Bapak,
Apa kabar?
Ingin rasanya berkunjung ke bengkel Panama untuk sekedar menyapa.
Tempat terakhir saya lihat Bapak.

Bapak,
Saya sudah tahun ketiga di bangku kuliah.
Waktu berlalu begitu cepat, ya?
Meski tak terlalu hebat, sudah banyak yang saya capai.
Dan saya percaya, saya disini karena Bapak.

Bapak,
Ingin rasanya memberitahumu.
Bahwa segala toleransi dan pikiran yang terbuka berasal darimu.
Kemana pun nanti masa depan membawa saya,
Bapak akan selalu menjadi bagian dari hidup saya.

Bapak,
Mereka bilang pertemuan menghapus rindu.
Namun doa mengobati dan membuatnya kekal.
Saya ingin sekali berjumpa, ingin sekali..


Selamat ulang tahun, Bapak.
Hormat saya sepenuh jiwa raga.



26 Januari 2016

Wednesday, December 30, 2015

Memaknai Karya

Dalam kejadian, perasaan, hidup, setiap orang akan menciptakan makna sendiri melalui kacamatanya masing-masing.

Seperti halnya yang terjadi denganku dalam memaknai karya. Film.


Seorang sutradara pasti memiliki misi. Misi menyampaikan rasa kepada orang banyak lewat karyanya.
Namun, sutradara tetap manusia. Seapik apa pun garapannya, selugas apa pun kontennya, intinya, sekeras apa pun ia berusaha, sutradara nggak akan bisa memaksa penonton secara seragam menangkap apa yang ia rasakan.

Penonton, punya hak penuh atas kegiatan memaknai film. Seliar apa pun itu.

Seperti aku dan film Laskar Pelangi.
Ada yang memaknai film ini sebagai potret tragedi pendidikan Indonesia.
Ada pula yang beranggapan film ini mengajarkan ketulusan, cinta kasih seorang guru.
Ada yang terinspirasi oleh persahabatan dan perjuangan anak-anak miskin.
Dan masih banyak lagi.
Aku sendiri, memaknai film ini sebagai sebuah pukulan dashyat tepat di tenggorokanku.
Sebuah karya yang membuatku tersadar bahwa sekolah adalah sebuah kenikmatan yang tak terkira, sekaligus sebuah tanggung jawab yang luar biasa.

Ah, sungguh memaknai film membuatku menjadi orang kaya.
Kaya hati akan emosi dan motivasi.

Karena sesungguhnya semua hal yang diciptakan dari hati, bagaimana pun bentuknya nanti, pasti akan sampai ke hati juga.
Jadi, apa pun makna yang kamu dapat, bila itu benar-benar sampai ke hatimu, berpeganglah.