Tuesday, August 16, 2016

Papua Day 12

Day 12
4 Juli 2016

Anak-anak.
Mereka yang selalu menemaniku. Yang awal kukenal sangat pemalu, tapi dalam waktu beberapa hari saja aku sudah merasa tidak mau berpisah dan tidak mau menghabiskan waktu tanpa kehadiran mereka. Terutama Bima, bocah berbadan kecil yang sudah seperti adikku sendiri.

Baru dua minggu aku ada di sini, aku sudah ketakutan dibayang-bayangi tanggal kepulangan. Hal yang paling menyakitkan adalah, tidak ada komunikasi. Kehidupan di sini masih sangat sederhana dan tidak ada sinyal.


Aku tidak takut pada jarak.
Aku takut pada waktu yang memisahkan kami.

Mereka anak-anak. Waktu akan segera mengubah kepribadian anak-anak. Aku takut jika tidak menjadi bagian dari waktu tersebut, aku akan kehilangan mereka. Selama-lamanya. Meski suatu saat nanti bertatap muka.

Tuhan,
Tuntun mereka menuju cita-cita dan masa depan yang baik.
Jaga hati mereka,

Dimana pun kami nanti,
Aku akan selalu menyayangi mereka.

Papua Day 1

Day 1
21 Juni 2016

Waktu aku melihat kerlap kerlip lampu kota Biak dari jendela pesawatku, bisa kurasakan dadaku bergetar dan air mata di pelupuk mata. Aku hanya bisa terdiam dan sesekali menarik nafas panjang.

Menjejakkan kaki di tanah Papua. Tak kusangka akan terwujud hari ini.

Biak dan Supiori begitu panas. Namun kami disambut dengan begitu hangat dan antusias yang tinggi. Dan aku belum-belum sudah mendapatkan keluarga baru.

“Kami ini adalah bapa dan ibu angkat kalian, sampaikan pada orang tua di rumah nanti, bahwa saya dan mama adalah orang tua angkat kalian”, kata Bapa Binur disaat kami baru mengenalnya beberapa menit saja. “Kita ini tidak berbeda, warna rambut, kulit, dari Sabang sampai Merauke kita ini satu to, Indonesia”.

Dua bulan ke depan, aku akan hidup bersama bapak yang penuh dengan keramahtamahan ini beserta istri dan 3 anaknya.

Berbuka di bibir pantai indah yang menghadap samudera pasifik, dengan matahari terbenam yang begitu indahnya, hari ini kusadari hal tersebut akan menjadi aktivitas sehari-hari yang akan biasa kami lakukan.

Thursday, June 16, 2016

Aku dan Barasuara

BARASUARA

Sebenernya udah denger dari lama sih, cuma beberapa hari ini baru hobi menyimak 9 lagu album Taifun dengan seksama. I mean, literally seksama: mendengarkan dengan headphone, mengutak-atik equalizer nyari-nyari yang pas, menyimak aransemen, mendengarkan suara per instrumen dan vokal, menghayati lirik, menikmati feel lagu. Sembilan lagu diulang sampe infinity.

Terus, setelah saya pikir-pikir (despite the fact that musikalitas saya cuma sebatas bisa ngebedain lagu 3/4 ama 4/4), album ini matang sekali.

Rapi banget, kaya banget, aransemen cerdas, porsi dan timing tiap instrumen dan vokal pas, lirik dalem, jenius lah pokoknya ini album.
Lalu saya cari tau. Ternyata nyiapin Taifun butuh tiga tahun.
Wadaw.
Pantes lah mereka terkenal dengan albumnya, bukan karena satu dua single aja.

Selain itu, live performance mereka berkualitas, dengan attitude personel yang baik.
Lalu saya cari tau. Ternyata sebelum rilis album, bertahun-tahun mereka latihan untuk memaksimalkan stage act sambil menggodog album.
Pantes lah panggung pertama mereka di Jogja, pertama loh ya, langsung penuh dan setelahnya banyak dibicarakan orang hingga tenar.

Jarang-jarang nih ada band kayak gini.
Band yang bahkan sebelum rilis album, udah heboh dimana-mana. Dan bukan strategi marketing masif yang mengangkat mereka, melainkan dari mulut ke mulut dan sosial media akibat stage act dan sound mereka yang cakep banget (dua jempol juga buat sound engineernya!!)

Ditambah orang-orang yang ada di dalamnya kayaknya memang orang-orang yang udah jenius duluan sebelum bikin project ini.
Paling tidak sebelum mendengar nama Barasuara, saya udah tau Iga, Marco, dan Gerald.
Iga pernah ada di Tika and The Dissidents, Soulvibe, sama di TTATW yang super asoy yang saya ga paham kenapa banyak orang ga ngerti itu. Marco berkiprah di belakang menjadi produser album Raisa, music director, dan udah jadi arranger dari lama (btw snare rendah di album Taifun ini asoy banget, ditambah groove yang enak banget lah pokoknya). Gerald udah lama jadi gitaris bersama project-project instrumentalnya, juga sebagai song writerarranger, dan produser album Dandelion-nya Monita Tahalea yang super duper enak banget keliling alam semesta 7 kali itu.

Dan mungkin, personel lainnya juga sama jeniusnya dengan tiga orang itu.

Nggak hanya jenius, tapi mereka juga cerdas karena pengalaman, mau berkorban mempersiapkan bara (selama 3 tahun ga dapet duit dan masih mau maksimal nyiapin musik yang akhirnya segini mateng), dan kemistri antar personelnya bagus.
Mungkin karena diaransemen bareng-bareng sama orang jenius nan cerdas, ditambah sound engineernya yang kece, makanya ini satu album bisa enak banget kayak sate klathak Pak Pong nambah bawang merah.


Btw,

Ngomong apa sih.

Hahahahahahahahahahahahaha.

Udah ah ntar ada ujian jam 8.

Jangan lupa dengerin Taifun!

Tuesday, May 24, 2016

Aku dan Nosstress

Ini cerita tentang satu lagi hari Sabtu yang penuh kebahagiaan.

Sebelumnya, aku mau cerita dulu tentang satu grup musik yang amat ku kagumi.


Nosstress

Aku baru ingat.
Pertama kali mengenal Nosstress, adalah saat aku mengunjungi tulisan Rara Sekar. Disana Rara Sekar menuliskan bahwa ia mengagumi band asal Bali ini.
Dan ketika mencari tau lagu-lagunya, aku langsung jatuh cinta.

Bagiku, Nosstress tak hanya menawarkan musik yang indah, namun juga membawa misi dari hati melalui lirik yang mereka ciptakan. Misi yang mulia, yang bisa membawa perubahan besar bagi siapa saja.

Ketika album kedua mereka lahir dan lagu Pegang Tanganku mulai beredar di internet, aku langsung menabung dan bertekad membeli original CD-nya. Dan setelah mendengar 10 lagu secara komplit, aku bersyukur menghabiskan 45 ribu rupiah dengan sangat bijak.

Nosstress sudah cukup tenar di Bali sana. Sayangnya belum terlalu dikenal oleh teman-teman dan lingkunganku. Belum cukup kiranya cinta orang Jogja untuk mengundangnya bernyanyi di sini. Harus ku pendam dulu.

Sampai akhirnya, Sabtu, 21 Mei 2016.
Mereka diundang tampil di Solo.
Aku membeli tiketnya jauh-jauh hari. Menandai kalenderku. Menyiapkan CD untuk di bawa.
Intinya aku tidak sabar.

Hari itu, pukul 5 sore aku berangkat sendiri, mengendarai mobil selama tiga jam melalui macetnya jalanan Jogja-Solo di malam Minggu. Aku ingin menikmati momen magis ini sendiri.

Sampai disana, aku tidak menyangka. Aku terkejut sekaligus bahagia.
Turns out there are so many people love them just like the way I do.
Ternyata banyak penonton yang hadir malam itu.
Ratusan penonton menanti mereka, ikut bernyanyi dan berbahagia.
Karya mereka dinikmati banyak orang, dan itu membuatku bahagia!

Bahkan di luar ruangan Nosstress di backstage, aku bertemu beberapa orang yang melakukan hal yang sama denganku: membawa CD milik mereka dan menanti untuk dilegalisir.
Tiga orang mas-mas yang ada di situ sama denganku, datang jauh-jauh dari Jogja untuk Nosstress.
Ah, aku bahagia sekali!

Malam itu sungguh sempurna.
Aku berdiri tepat di depan panggung. Dan hanya mengambil satu foto ini saja, karena tak mau menyianyiakan kehadiran mereka di depanku.


Di depan mereka, di tengah lantunan lagu mereka, I did close my eyes a few times. Because sometimes, you can't enjoy a heart-made work with your eyes only. You need your soul. And your heart.
Karena apa yang dibuat dari hati, pasti akan sampai ke hati.

Kupit, Man, dan Cok hadir di depan mataku dan mengisi hati semua orang yang ada di sana.

Seusai acara, aku berjalan menuju backstage mencari ruangan Nosstress.
Setelah selama ini mengikuti akun sosial media mereka, video-video mereka, aku bisa membayangkan mereka akan sangat ramah dan dengan senang hati melayani penggemarnya untuk sekedar foto dan tanda tangan. Seperti apa yang dilakukan Silampukau, band lain yang malam itu turut meramaikan panggung juga, yang dengan senang hati ke luar ruangan membaur bersama penggemarnya.

Malam itu, Nosstress mengurung diri di ruangannya dan "sedang tidak bisa diganggu karena lelah", kata panitia.
Tentu aku dan mas-mas yang sudah menanti di depan pintu sedikit kecewa. Aku bukan kecewa karena tak mendapat foto dari mereka. Aku terkejut karena sikap mereka tak sesuai ekspektasiku.
Akhirnya, aku dan mas-mas tadi hanya bisa menitipkan CD kami untuk dibawa masuk oleh panitia.

Aku jadi ingat momen dua kali aku menonton Banda Neira, mereka selalu turun ke bawah panggung setelah selesai tampil untuk membaur dengan ratusan penonton, meski dengan muka sangat lelah (bisa terlihat dari mata Nanda di fotoku bersama mereka).

Ah, tapi tidak apa.
I keep telling myself: mungkin mereka punya alasan lain yang tak ku ketahui. Aku hanya terkejut karena tak sesuai ekspektasiku. Itu saja.

Hal itu tidak mengurangi kesempurnaan malam itu.
Malam yang tidak terlupakan.
Malam yang sesungguhnya sudah pagi karena aku baru beranjak pulang pukul 00.30.

Terima kasih Bli Kupit, Bli Man, Bli Cok,
Karena telah ada dan mengisi hati kami dengan musik yang bergizi.

Dan untuk teman-teman yang membaca ini,

Keberuntungan Berbuah Kehormatan

Tanggal 7 Mei yang lalu adalah satu hari tak terlupakan.

Sejak almarhum guru Bahasa Indonesia-ku di SMP, aku belum menemukan seorang pengajar yang begitu mempengaruhi hidupku.


Sampai akhirnya bertemu beliau.
Seorang yang begitu aku kagumi integritas dan pola pikirnya yang terlampau unik.

Sabtu, 7 Mei 2016 satu kejadian berharga terjadi dalam hidupku.
Ini bukan sebuah prestasi, semata-semata sebuah keberuntungan yang berbuah kehormatan.
Kehormatan yang mungkin tidak dirasakan ketika orang tersebut bukan orang yang Anda kagumi sejak lama, sejak pertama berjumpa.
Sampai detik ini aku masih bisa merasakan detak jantung yang tak bisa kukendalikan ketika mengundang beliau naik ke panggung dan duduk 30 cm di sebelah kiriku.

Although I kinda messed that thing up, at least I know that I did my best trying to control myself :))
And I would never call it as a mistake since "Mumpung masih mahasiswa, keluarkan 1001 kesalahan Anda." is one sentence I live by. Yang selalu ia ucapkan saat kuliah.
It was still one of the best experiences I've ever had!