Aku tak pernah menyadari kehidupan disini ternyata begitu penat.
Kenapa dunia ini begitu sibuk?
Ramai, bising, terburu, sesak, tidak ada kah detik untuk menghela nafas?
Duniaku di ujung timur sana tak seperti ini.
Semua begitu sederhana
Tak ada yang mengejarmu
Tak ada yang mengejar siapa pun
Tak ada yang berlari
Yang ada hanya ingatkan diri sendiri
Alat komunikasi sesederhana berjalan kaki, menatap lawan bicara, dan berkata
Tas jinjing atau pinggang berisikan dompet, ponsel, dan benda-benda orang kota, tak ada harga
Kemana siapa membawa, cukup badan yang dibawa
Hujan bukan fenomena yang diwaspadai, apalagi ditakuti
Air turun, basahlah
Matahari sebentar keringkan lagi
Air laut memanggil, basahlah
Matahari belum bosan keringkan lagi
Lelah bermain, ambil kelapa barang satu dua
Perut kosong, lempar nilon sambil pasang mulut besar
Bilang ikan tangkapanmu pasti yang paling besar
Semua tak berhenti putar otak
Seribu satu benda bisa diciptakan dari alam
Bagi mereka, tak ada kata kurang
Bagi mereka, urusan sebatas perut yang harus diberi kenyang
Sederhana bisa begitu bahagia
Sederhana bisa terasa nyata
Jauh dari kemewahan dan hal yang berlebihan membuatku jatuh cinta
Lima puluh dua hari
Lalu dihempas perkotaan lagi
Aku tertegun
Melihat ruwetnya jalanan
Hebohnya orang berdandan
Panjangnya antrian diskonan
Dan rapatnya tembok-tembok perumahan
Selama ini aku hidup di sini?
Dan sekarang terpaksa tercebur lagi?
Tuesday, August 16, 2016
Rumah Kedua
Mimpiku telah terwujud.
Berkunjung ke tanah yang kuimpikan sejak SMP.
Tapi nyatanya Tuhan memberi lebih dari yang kuminta.
Papua tak hanya memberiku kesempatan untuk berkunjung,
Papua juga memberiku alasan untuk kembali.
Ada keluarga yang menyayangiku disana.
Ada rumah kedua disana.
Berkunjung ke tanah yang kuimpikan sejak SMP.
Tapi nyatanya Tuhan memberi lebih dari yang kuminta.
Papua tak hanya memberiku kesempatan untuk berkunjung,
Papua juga memberiku alasan untuk kembali.
Ada keluarga yang menyayangiku disana.
Ada rumah kedua disana.
Papua Day 41
Day 41
1 Agustus 2016
Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Dalam beberapa waktu saja, tanpa sadar ia telah mengajarkanku bagaimana mengalir bersama naik turunnya kehidupan dari sisi yang berbeda.
Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Tanggung jawab dan menjadi dewasa adalah hal yang sangat bisa kurasa di tengah timbunan candaan dan bicaranya yang layaknya anak-anak.
Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Melindungi orang yang ia sayangi adalah sebuah naluri baginya. Sesuatu yang tidak perlu banyak dipikir, dilakukan memang karena sewajarnya dilakukan. Sesuatu yang tak banyak dimiliki pria-pria dewasa di luar sana.
Adikku memang berbadan kecil.
Tapi adik kecilku berhati besar.
Seorang bocah yang kaya hatinya.
Suatu waktu aku menyakitinya. Aku bahkan tidak tau kenapa.
Setelah berkali-kali berusaha bicara dengannya, aku menyerah. Ia meronta, kubiarkan ia pergi karena tak mau memaksanya lagi. Kemudian ia berjalan pulang.
Aku sempat menangis. Merasa bersalah, terlebih karena sepekan lagi aku meninggalkannya. Aku takut kehilangan adik kecilku di hari-hari terakhir disini.
Aku berjalan pulang, dengan banyak hal berputar dalam kepala.
Tapi lagi-lagi adik kecilku mengajarkanku banyak hal.
Tiba-tiba entah muncul dari mana, ia berlari menyusulku yang berjalan kaki pulang sendiri di tengah kegelapan. Meski tak mau berucap sepatah kata pun karena marah, meski tak mau menatap sedikit pun karena kesal, meski tak mau menyentuhku sama sekali, ia berjalan dalam kesunyian di sisi kananku dan memastikan aku sampai di rumah seperti hari-hari biasanya.
Malam itu di kamar aku menangisi banyak hal.
Entah kenapa kejadian itu membuatku merenungkan semuanya.
Kesalahanku padanya, kesedihanku karena akan pulang, dan utamanya, pelajaran kehidupan yang hebat yang selama ini kudapatkan disini.
Adik kecilku mengajarkanku bahwa anak-anak di pelosok kampung memiliki hati yang besar, bersih, dan mulia. Hati mereka tulus sekali. Hati anak-anak yang hidup jauh dari kemudahan dan hal-hal tidak penting yang berorientasi kepada kepuasan instan. Hati anak-anak yang hidup dengan kebahagiaan dan kesedihan apa adanya yang tak pernah dibuat-buat. Hati anak-anak yang hidup dengan kesederhanaan.
Mereka kaya hati tanpa harus mencari. Mereka kaya potensi tanpa mereka sadari. Sesungguhnya mereka hanya butuh dunia luar meludahkan barang sedikit saja motivasi untuk menjadi hebat sebelum menjadi sia-sia.
Adik kecilku membuatku berjanji,
Untuk terus bekerja dan berusaha demi anak-anak Indonesia di luar sana.
Selamat mengejar cita, Bima.
1 Agustus 2016
Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Dalam beberapa waktu saja, tanpa sadar ia telah mengajarkanku bagaimana mengalir bersama naik turunnya kehidupan dari sisi yang berbeda.
Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Tanggung jawab dan menjadi dewasa adalah hal yang sangat bisa kurasa di tengah timbunan candaan dan bicaranya yang layaknya anak-anak.
Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Melindungi orang yang ia sayangi adalah sebuah naluri baginya. Sesuatu yang tidak perlu banyak dipikir, dilakukan memang karena sewajarnya dilakukan. Sesuatu yang tak banyak dimiliki pria-pria dewasa di luar sana.
Adikku memang berbadan kecil.
Tapi adik kecilku berhati besar.
Seorang bocah yang kaya hatinya.
Suatu waktu aku menyakitinya. Aku bahkan tidak tau kenapa.
Setelah berkali-kali berusaha bicara dengannya, aku menyerah. Ia meronta, kubiarkan ia pergi karena tak mau memaksanya lagi. Kemudian ia berjalan pulang.
Aku sempat menangis. Merasa bersalah, terlebih karena sepekan lagi aku meninggalkannya. Aku takut kehilangan adik kecilku di hari-hari terakhir disini.
Aku berjalan pulang, dengan banyak hal berputar dalam kepala.
Tapi lagi-lagi adik kecilku mengajarkanku banyak hal.
Tiba-tiba entah muncul dari mana, ia berlari menyusulku yang berjalan kaki pulang sendiri di tengah kegelapan. Meski tak mau berucap sepatah kata pun karena marah, meski tak mau menatap sedikit pun karena kesal, meski tak mau menyentuhku sama sekali, ia berjalan dalam kesunyian di sisi kananku dan memastikan aku sampai di rumah seperti hari-hari biasanya.
Malam itu di kamar aku menangisi banyak hal.
Entah kenapa kejadian itu membuatku merenungkan semuanya.
Kesalahanku padanya, kesedihanku karena akan pulang, dan utamanya, pelajaran kehidupan yang hebat yang selama ini kudapatkan disini.
Adik kecilku mengajarkanku bahwa anak-anak di pelosok kampung memiliki hati yang besar, bersih, dan mulia. Hati mereka tulus sekali. Hati anak-anak yang hidup jauh dari kemudahan dan hal-hal tidak penting yang berorientasi kepada kepuasan instan. Hati anak-anak yang hidup dengan kebahagiaan dan kesedihan apa adanya yang tak pernah dibuat-buat. Hati anak-anak yang hidup dengan kesederhanaan.
Mereka kaya hati tanpa harus mencari. Mereka kaya potensi tanpa mereka sadari. Sesungguhnya mereka hanya butuh dunia luar meludahkan barang sedikit saja motivasi untuk menjadi hebat sebelum menjadi sia-sia.
Adik kecilku membuatku berjanji,
Untuk terus bekerja dan berusaha demi anak-anak Indonesia di luar sana.
Selamat mengejar cita, Bima.
Papua Day 40
Day 40
31 Juli 2016
Malam ini aku membaca lagi pesan-pesan yang ada di grup keluarga besar. Beberapa waktu lalu memang sudah sempat aku muat, tapi karena banyaknya pesan yang masuk, belum sempat aku baca. Ku baca satu persatu tiap pesan dari sanak saudara, foto-foto keluarga, ditambah beberapa saudara sudah lama tak jumpa yang kemarin pulang ke Jogja, rasa sedih sempat menyelimuti.
31 Juli 2016
Malam ini aku membaca lagi pesan-pesan yang ada di grup keluarga besar. Beberapa waktu lalu memang sudah sempat aku muat, tapi karena banyaknya pesan yang masuk, belum sempat aku baca. Ku baca satu persatu tiap pesan dari sanak saudara, foto-foto keluarga, ditambah beberapa saudara sudah lama tak jumpa yang kemarin pulang ke Jogja, rasa sedih sempat menyelimuti.
Tapi kemudian aku ingat dimana aku berada sekarang.
Kampung ini, segala pengalaman yang ada di dalamnya, alamnya, keramahan warga, kamam, awin, adik dan kakak, anak-anak kecil, sahabat, dan satu adik kecilku di sini, semua membuatku dengan mudah membuang jauh sedih dalam sekejap.
Aku tidak akan pernah menyesali dan menukar kehidupanku disini dengan apa pun.
Tempat yang sudah membuatku berkali-kali menangis karena tidak mau pulang dan kehilangan kehidupanku disini begitu saja.
Kampung ini, segala pengalaman yang ada di dalamnya, alamnya, keramahan warga, kamam, awin, adik dan kakak, anak-anak kecil, sahabat, dan satu adik kecilku di sini, semua membuatku dengan mudah membuang jauh sedih dalam sekejap.
Aku tidak akan pernah menyesali dan menukar kehidupanku disini dengan apa pun.
Tempat yang sudah membuatku berkali-kali menangis karena tidak mau pulang dan kehilangan kehidupanku disini begitu saja.
Papua Day 12
Day 12
4 Juli 2016
Anak-anak.
4 Juli 2016
Anak-anak.
Mereka yang selalu menemaniku. Yang awal kukenal sangat pemalu, tapi dalam waktu beberapa hari saja aku sudah merasa tidak mau berpisah dan tidak mau menghabiskan waktu tanpa kehadiran mereka. Terutama Bima, bocah berbadan kecil yang sudah seperti adikku sendiri.
Baru dua minggu aku ada di sini, aku sudah ketakutan dibayang-bayangi tanggal kepulangan. Hal yang paling menyakitkan adalah, tidak ada komunikasi. Kehidupan di sini masih sangat sederhana dan tidak ada sinyal.
Aku tidak takut pada jarak.
Aku takut pada waktu yang memisahkan kami.
Mereka anak-anak. Waktu akan segera mengubah kepribadian anak-anak. Aku takut jika tidak menjadi bagian dari waktu tersebut, aku akan kehilangan mereka. Selama-lamanya. Meski suatu saat nanti bertatap muka.
Tuhan,
Tuntun mereka menuju cita-cita dan masa depan yang baik.
Jaga hati mereka,
Dimana pun kami nanti,
Aku akan selalu menyayangi mereka.
Baru dua minggu aku ada di sini, aku sudah ketakutan dibayang-bayangi tanggal kepulangan. Hal yang paling menyakitkan adalah, tidak ada komunikasi. Kehidupan di sini masih sangat sederhana dan tidak ada sinyal.
Aku tidak takut pada jarak.
Aku takut pada waktu yang memisahkan kami.
Mereka anak-anak. Waktu akan segera mengubah kepribadian anak-anak. Aku takut jika tidak menjadi bagian dari waktu tersebut, aku akan kehilangan mereka. Selama-lamanya. Meski suatu saat nanti bertatap muka.
Tuhan,
Tuntun mereka menuju cita-cita dan masa depan yang baik.
Jaga hati mereka,
Dimana pun kami nanti,
Aku akan selalu menyayangi mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)