Akhirnya, setelah sekian lama aku membayangkan kehadirannya di sekitarku, mengingat-ingat suaranya, setelah sekian lama aku merindukan Bima, siang itu adik kecilku menelfon lewat telfon genggam bapanya.
"Halo Kaka Lia."
Spontan aku meloncat dari kursi dan lari keluar rumah. Semata-mata karena senang bukan main dan tak mau teriakanku mengganggu orang di rumah.
Sungguh, hati ini rasanya mau meledak-ledak. Senang bukan main.
Namun, lagi-lagi namanya juga Bima. Hubungan "adik-kakak" kami tak pernah sentimentil. Aku dengan lihai menyembunyikan perasaanku yang emosional ini dan tetap berlagak tenang menghadapinya. Hahahaha.
Selama telfon kurang lebih 30 menit, kami menyombongkan diri, mencela, dan tertawa bersama. Sesekali aku menanyakan sekolah dan kelanjutan seleksi sepak bolanya. Hanya itu hal serius yang bisa kami bicarakan.
"Kaka Arma ada tangkap teteruga."
"Ko ada janji bikin gelang teteruga untuk kaka to. Mari sini kasi kaka."
"Kaka datang ke kampung boleh, sebentar sa bikin untuk kaka."
"Iyo sebentar kaka lari ke Warbor."
"Hahaha.."
"Hahaha.."
Ah, betapa aku berharap kalimat itu bukanlah candaan.
Terima kasih, Bima. Bima bikin kaka bahagia sekali.
Barangkali dari sosial media saat ini aku terlihat menjadi orang paling lemah, paling cengeng, paling melankolis, dan lain sebagainya.
Aku tidak peduli.
Memang akan selalu menjadi sentimentil when it comes to Warbor.
And whenever I cry, I never deny it.
Mungkin tidak semua orang memahami. Tapi aku tau teman-teman satu timku mengerti.
Bahwa berpisah dengan Warbor bukan hal yang mudah.
They, too, cry a lot.
***
Waktu itu, baru satu minggu aku menetap di sana, aku sudah merasa nyaman. Di saat beberapa kalimat keluhan dilontarkan oleh beberapa kawan karena masih beradaptasi, aku sudah tidak mau meninggalkan tempat itu.
Warbor,
Tempat yang saat ini kusebut rumah kedua.
***
Sudah dua pekan aku di Jogja. Tapi hal-hal di sekitarku tak henti-hentinya membuatku sedih, berkaca-kaca, bahkan menangis. Foto-foto, tulisan-tulisan, keluh kesah, dan curahan hati teman-teman yang juga merasakan hal yang sama denganku, it kills me.
Rindu.
Rindu mati.
***
Dua pekan sebelum pulang, berselisih kecil dengan adikku bisa membuatku menangis semalaman sampai tidur. Aku menangis karena sebagian dari diriku memaksa sebagian lainnya untuk menerima kenyataan bahwa adikku dan kehangatan kampung ini sebentar lagi harus kutinggal pergi.
Pagi itu, sepekan sebelum hari kepulangan, selesai mencuci pakaian aku berjalan ke belakang rumah. Aku duduk di bibir pantai sendiri. Aku tau persis, kampung sedang sepi-sepinya karena semua orang melaksanakan sembahyang di gereja.
Aku menangis. Menangis karena tak ingin pulang.
Ah, bukan. Aku bukan menangis karena tak ingin pulang.
Aku menangis karena perpisahan dengan kampung ini dan seisinya, benar-benar akan terjadi.
Satu hari sebelum pulang, aku berada di tengah-tengah keramaian di ruang pameran foto ketika lagu itu berputar. Lagu yang mengalun dengan manis.
Aku tak tau lagi harus bagaimana. Jika aku adalah bocah kecil, mungkin saat itu aku menangis meronta-ronta meminta untuk tinggal, untuk tidak pulang, untuk tetap bermain di sana. Kusesalkan orang dewasa tak melakukan hal itu. Aku hanya bisa menahan air mata dan pergi ke belakang sampai lagu itu selesai.
Lagu indah milik Pacenogei
Ado mama lihat
Sa pu hati su tatinggal
Di gunung-gunung, di lembah-lembah
Di Papua
Ado mama lihat
Sa pu hati su tenggelam
Di dasar pasir, di laut biru
Di Papua
Cerita dia pu sungai yang deras
Cerita dia pu hutan yang luas
Tempat matahari selalu menyanyi
Tempat Cenderawasih selalu menari
Ado mama lihat
Sa su rindu, rindu mati
Ke pasir pantai, ke laut biru
Ke Papua
***
Malam pertama tidur di Jogja, aku masih menangis.
Baru pertama kali aku merasakan pedihnya kenyataan bahwa jarak dan waktu, dan ketidakpastian, bisa begitu membunuh.
***
Malam ini aku kembali menangis.
Aku rindu kampung. Aku rindu semua yang ada di dalamnya. Semua hal sampai ke detail kecilnya.
Dan lagi. Aku rindu Bima.
Aku sering sekali membayangkan kehadirannya di dekatku.
Aku sering membayangkan Bima tiba-tiba muncul di jendela kelas waktu kuliah, di teras rumah waktu aku sedang makan, dan di tempat-tempat lain, sambil bilang "Kaka Lia..", suaranya masih teringat jelas di kepalaku.
Aku ingin sekali memeluknya erat. Aku tak pernah memeluknya karena ia selalu menjadi sosok yang cuek, yang kuat, yang melindungi, sosok yang tak pernah terlihat lemah sama sekali.
Kecuali saat dia menangis hancur di hari kepulanganku. Aku memeluknya erat hari itu.
Begitu sulit hanya untuk mendengar suaranya lewat telfon.
Lagi-lagi jarak, waktu, dan ketidakpastian membunuhku.
Aku ingin memeluk adik kecilku sekarang.
Memeluknya seperti memeluk seluruh Warbor dalam dekapanku.
***
Malam terakhir sebelum kami meninggalkan Warbor, Bapa membacakan sebuah lirik lagu di depan jemaat. Lagu yang mereka, orang-orang kampung yang aku cintai, nyanyikan sepanjang malam hingga pagi hari kami pergi.
Aku tak pernah menyadari kehidupan disini ternyata begitu penat. Kenapa dunia ini begitu sibuk? Ramai, bising, terburu, sesak, tidak ada kah detik untuk menghela nafas? Duniaku di ujung timur sana tak seperti ini.
Semua begitu sederhana Tak ada yang mengejarmu Tak ada yang mengejar siapa pun Tak ada yang berlari Yang ada hanya ingatkan diri sendiri
Alat komunikasi sesederhana berjalan kaki, menatap lawan bicara, dan berkata Tas jinjing atau pinggang berisikan dompet, ponsel, dan benda-benda orang kota, tak ada harga Kemana siapa membawa, cukup badan yang dibawa
Hujan bukan fenomena yang diwaspadai, apalagi ditakuti Air turun, basahlah Matahari sebentar keringkan lagi Air laut memanggil, basahlah Matahari belum bosan keringkan lagi Lelah bermain, ambil kelapa barang satu dua Perut kosong, lempar nilon sambil pasang mulut besar Bilang ikan tangkapanmu pasti yang paling besar
Semua tak berhenti putar otak Seribu satu benda bisa diciptakan dari alam Bagi mereka, tak ada kata kurang Bagi mereka, urusan sebatas perut yang harus diberi kenyang
Sederhana bisa begitu bahagia Sederhana bisa terasa nyata Jauh dari kemewahan dan hal yang berlebihan membuatku jatuh cinta
Lima puluh dua hari Lalu dihempas perkotaan lagi
Aku tertegun Melihat ruwetnya jalanan Hebohnya orang berdandan Panjangnya antrian diskonan Dan rapatnya tembok-tembok perumahan
Selama ini aku hidup di sini? Dan sekarang terpaksa tercebur lagi?