Thursday, May 17, 2018

Jauh

102 days and tonight is the 4th time.

Banyak algoritma, atau barangkali perasaan, yang tak kunjung ku pahami. Jangankan mengantisipasi, membuat definisi saja aku tak mampu.

Terakhir. Aku harap.
Semoga tak ada yang kelima.
102 hari dan masih terus mencari definisi.

Sunday, April 15, 2018

Konser Mahal Pertama

Breakeven!
Breakeven!
Breakeven!

Selesai. Panggung sudah gelap. Tak ada lagi suara. Namun suara kompak ribuan manusia yang berdesakan pada malam itu, membuatku bersemangat untuk meneriakkan kata yang sama.

............

"As you wish!"


***

Selasa 10 April 2018,
Setelah perebutan tiket yang sangat heroik, lari-lari ke atm karena deadline cuma 5 menit, saldo nggak cukup karena gagal dapet harga presale,
Setelah membuat orang sekantor mengira aku tunangan akibat mengajukan cuti dua hari tanpa memberi alasan yang jelas,
Setelah drama deadline pekerjaan dibarengi dengan mengejar kereta pukul 19.30 di Stasiun Bandung,
Setelah menanti empat bulan lamanya,
Akhirnya bocah ingusan ini berhasil menyaksikan gigs band luar negeri pertamanya tanpa meminta sepeser pun uang dari orang tua.

Meskipun agak kaget karena ternyata orang-orang di sini punya cara yang berbeda dalam menikmati konser, aku tetap bahagia!

Dan saat kata-kata "As you wish!" keluar dari mulut Danny, aku meloncat-loncat setinggi-tingginya sambil berteriak.
Entah kenapa,
Meski selama konser aku tak henti-hentinya merinding bahagia,
Intro lagu ini selalu membuat bulu kudukku merinding, dada sesak, dan mata berkaca-kaca.
Tuhan maha baik.

Satu hari yang penuh emosi.

Satu lagi hari bahagia.


Monday, March 12, 2018

Aku, Bung Karno, dan Bandung

“Who is this?” tanya host sister-ku suatu hari, menerjemahkan pertanyaan host dad-ku yang tak bisa berbahasa Inggris. Mereka berdua memandang sebuah foto hitam putih yang ada di dompetku.

“Is that your grandpa?”

“He’s my first president.”

Dan raut wajah Pa – panggilan akrab ­host dad-ku – seketika berubah.

“Then why do you put his photo inside your wallet?”

Tak pernah sekali pun aku mengungkap alasan kenapa aku mengagumi Bung Karno kepada orang lain. Rasanya terlalu naif.

“I just love him,” jawabku singkat.


***


Sudah jalan dua bulan tinggal di Bandung, setiap akhir minggu aku masih bingung harus melakukan apa. Setelah sedikit melakukan riset melalui sosial media, aku menemukan akun sebuah komunitas sejarah yang mengadakan tour wisata.

Di situ tertulis “Ngabandros Jejak Sukarno di Bandung”.

Sepertinya ini akan menjadi jawaban manis untuk akhir mingguku yang tanpa arah.


***


Singkat cerita, aku yang sebatang kara di Bandung ini, bergabung dengan sekelompok orang yang punya tujuan sama hari itu: menelusuri jejak Sukarno di Bandung.



Tempat pertama yang kami kunjungi adalah LP Sukamiskin.

Bung Karno dan tiga temannya yang tergabung dalam Partai Nasional Indonesia ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda karena dianggap mengancam kekuasaan pemerintah saat itu. Beliau dijebloskan ke Penjara Banceuy sambil menunggu proses persidangan, kemudian dipindahkan ke Sukamiskin setelah membacakan pledoinya yang berjudul “Indonesia Menggugat” saat persidangan.


Saat masuk kawasan lapas, kami tidak diperbolehkan membawa HP dan kamera. Foto ini diambil oleh petugas yang mengantar kami sampai ke dalam sel.

Oh. Tentang penjara.

Ini adalah kali pertama aku masuk ke sebuah lapas. Selain bekas sel Bung Karno, hal detail seperti bentuk bangunan, cara petugas berkomunikasi, aktivitas para tahanan, suasana lorong dan pintu-pintu sel yang begitu dingin, setiap elemen di dalam sini membuatku banyak terdiam dan berpikir.

Tempat ini terasa begitu asing. Di pikiranku ia nyata dalam bentuk skenario, karena sungguh, semua pengetahuanku tentang kehidupan penjara berasal dari film. Satu adegan menghampiriku saat berjalan menuju pintu keluar. Beberapa anak yang membawa bingkisan berlari menghampiri dan memeluk seseorang yang kuasumsikan adalah ayahnya, disusul seorang ibu di belakangnya dengan senyum bahagia. Sungguh aku benar-benar merasa menjadi cameo tanpa dialog dalam sebuah adegan film.

Dari LP Sukamiskin, kami berkeliling ke tempat-tempat selanjutnya menggunakan bus Bandros.



Tempat kedua: Museum Preanger di Hotel Grand Preanger.
Tempat ini adalah salah satu gedung yang dirancang oleh Bung Karno yang saat itu menjadi asisten arsitek utamanya, Schoemaker.




Tempat ketiga: Penjara Banceuy.
Penjara ini tempat Bung Karno ditahan sebelum proses persidangan dilaksanakan. Di sel yang sangat kecil tanpa ventilasi ini, di atas tempat kencingnya beliau menulis Indonesia Menggugat, sebuah pledoi yang mengutip 66 tokoh dunia dan menyertakan berbagai macam data, dalam waktu 40 hari.



Di tempat ini juga kami banyak berdiskusi tentang biografi Bung Karno dari berbagai sudut pandang.




Tempat keempat: Gedung Indonesia Menggugat.
Di gedung ini Bung Karno membacakan pledoinya saat persidangan kolonial. Konon katanya, masyarakat ramai berkumpul di depan gedung saat proses persidangan ini berlangsung.



Tempat terakhir: ITB (THS)
Bung Karno adalah satu dari sebelas orang pribumi yang sekolah di THS, perguruan tinggi yang disebut sebagai cabang dari TU Delft pada saat itu. Hampir DO, beliau akhirnya lulus dan ikut merancang beberapa bangunan di ITB.



Setelah satu hari menelusuri jejak Bung Karno, di tempat ini perjalanan kami berakhir. Banyak sekali pengetahuan yang tak kusangka akan kudapatkan dari perjalanan ini. Sungguh Bung Karno dan Bandung adalah dua hal yang saling melekat.


***


Tujuh tahun yang lalu saat Pa menanyakan alasan foto Bung Karno ada di dompetku, aku memilih untuk tidak menjawab.

Kemarin, untuk pertama kalinya aku mengutarakan alasan naif kenapa aku mengagumi Bung Karno.
Menahan suara yang sedikit bergetar karena gugup, di depan orang-orang yang baru ku kenal selama beberapa jam itu aku bercerita tentang sosok Bung Karno di mataku, bagaimana aku mengenal dan tidak mengenalnya, dan bagaimana aku memutuskan untuk mengikuti perjalanan ini.

Bagiku, perjalanan kemarin adalah salah satu perjalanan yang emosional dan keputusan terbaik yang kubuat selama di Bandung.

Satu hal yang pasti,

Perjalanan ini tidak semata-mata menunjukkan kehebatan Bung Karno. Namun lebih penting dari itu, perjalanan ini memperlihatkan sisi “manusia” beliau dengan segala kekurangannya.

Sehingga aku tidak lagi mengagumi Bung Karno sebagai seorang tokoh besar,
Melainkan mengenal, memahami, dan menyayangi beliau sebagai seorang manusia.


***


Terima kasih Komunitas Aleut dan Mooi Bandung.



Foto: Komunitas Aleut dan koleksi pribadi.

Sunday, December 17, 2017

Mas Bumi

Mas Bumi, kamu pernah bilang,
Mencari bahagia itu seperti membeli kue cubit.

Ada yang menyukai setengah matang, ada yang tidak bisa makan kalau tidak sepenuhnya matang.
Ada yang suka taburan coklat di atasnya, ada yang lebih suka dengan keju atau susu.
Ada yang hobi hingga tiap hari beli, ada yang tak suka bahkan tak pernah mencoba.

Kalau kau sebut bahagiamu itu coklat, jangan paksa temanmu yang suka keju untuk bahagia memakan coklat.

Bukan kah sederhana saja pola pikir itu?

Ada orang-orang yang mengejar kehidupan mapan dengan menjadi karyawan bergaji besar, ada yang bertahan berjualan kaos kaki di pinggir jalan.
Ada orang-orang yang bergonta-ganti tempat makan setiap malam, ada yang menyalakan lampu minyak untuk makan nasi bungkus berdua dengan anaknya.
Ada yang bangun pagi setiap hari untuk membuka toko kelontongnya, ada yang beraktivitas malam hari menulis novel fiksinya.

Mas Bumi, kesalahan terbesarku adalah memukul rata arti bahagia.
Memandang kagum dan iri pada yang di atas, menganggap mereka lebih bahagia dariku.
Merasa prihatin dan kasihan pada yang di bawah, menganggap mereka tidak bahagia sepertiku.

Sungguh, Mas Bumi, baru ku sadari, sesungguhnya tak pernah ada atas dan bawah untuk bahagia.
Semua punya definisi masing-masing, dan semua menjalankan peran sesuai keinginannya.

Sungguh, Mas Bumi, jika kamu masih di sini, mungkin aku tak sebingung ini.
Mencoret kesana dan kemari, membuat arti bahagia milikku sendiri.

Mas Bumi,
Nanti aku akan tulis surat untukmu lagi.
Saat hujan berhenti,
Atau saat ku temukan bahagia yang dicari.

Tuesday, August 1, 2017

Melepas Waktu #2

Tulisan ini bagian dari Melepas Waktu, sebuah rangkaian tulisan tentang aku dan Papua.
Tentang Melepas Waktu bisa dilihat di sini.
Tulisan Melepas Waktu #1 bisa dilihat di sini
Semua foto diambil oleh Upan.

***

Suatu sore yang cerah, kami berkendara dengan pick up kesayangan kami menuju Kampung Warsa, desa di sebelah barat Kampung Warbor.
Setelah berdiskusi sana-sini dengan beberapa pihak, dari Pantai Warsa kami menyeberang ke sebuah pulau kecil di Urbowi.


Bukan, ini bukan pulau. Sebenarnya ini adalah sebuah gundukan pasir yang menyembul di tengah teluk yang dikelilingi oleh hutan bakau. Gundukan pasir ini biasa disebut Pulau Timbul Tenggelam karena hanya akan muncul ketika air laut surut.
Diameternya mungkin hanya sekitar 15 meter, tergantung pasang surut air laut saat itu. Kemudian di sekelilingnya adalah laut dangkal dengan air  jernih yang di dasarnya terdapat banyak sekali bintang laut.


Kami puas berenang dan bermain air di tengah laut, dengan langit cerah, tanpa suara.
Namun hal yang sangat magis adalah saat langit mulai meredup.

Sore itu, terduduk merendam tubuhku di air laut, ketika matahari mulai terbenam dan langit berwarna jingga keunguan, aku hanya bisa terdiam dan menyebut nama Tuhan berulang kali.
Kami semua tak bisa berkata. Selama beberapa menit kami hanya bisa terpaku menyaksikan indahnya matahari terbenam sore itu, sambil bergelut dengan pikiran masing-masing.

Entah milik mereka, tapi pikiranku hanya ada rasa syukur yang tak terkira.