Katanya aku sang kuat.
Nyatanya aku si lemah.
Katanya aku sang supel.
Nyatanya aku si penyendiri.
Katanya aku sang pemberani.
Nyatanya aku si penakut.
Katanya aku sang percaya diri.
Nyatanya aku si minder.
Jangan percaya katanya, ya?
Percaya saja pada nyataku, yang tak banyak orang tau.
Dua detik lagi,
Atau barangkali dua purnama berjanji,
Akan ku ceritakan padamu,
Dan pada pemburu waktu.
Wednesday, August 8, 2018
Saturday, August 4, 2018
Aku dan Puisi Pak Sapardi
Aku tau Marsinah, tapi tak pernah mengenalnya.
Aku tau Pak Sapardi, tapi tak pernah benar-benar memahaminya.
Sampai akhirnya kedua orang itu datang bersamaan melalui puisi.
Aku seorang penulis untuk diriku sendiri; aku membaca dan menulis puisi.
Tapi aku tak pernah menyadari kekuatan dari serangkaian kata bisa begitu besar, sampai akhirnya ku dengar Pak Sapardi dan Dongeng Marsinah-nya.
Pak Sapardi dan Marsinah bersama-sama mengantarku ke sebuah tangis yang dalam, tangis yang berasal dari berbagai macam rasa; sesal, miris, kecewa, marah, dan menyerah.
Mereka mengantarku kepada kisah pilu Marsinah. Lebih lagi, kepada perkataan dan perbuatan yang telah lahir dari diri. Lebih lagi, kepada keberadaan saat ini di tengah lautan pilihan hidup yang sangat luas. Lebih lagi, kepada tujuanku yang tentu akan selalu abu namun tetap harus diburu.
Dalam dan luas.
Mungkin ini kekuatan yang dihasilkan dari tiga tahun menyusun kata.
Terima kasih.
Sehat selalu, Pak Sapardi.
Friday, July 6, 2018
Mas Bumi
Kalau Mas Bumi tau,
Mungkin tangannya akan mengepal keras.
Mungkin kedua rahangnya akan sekuat tenaga ia katupkan hingga garis kaku terlihat di pipinya.
Mungkin matanya akan menatap tajam seakan-akan hendak menguliti jalan pikiran dan jiwaku yang entah kenapa menjadi begitu lemah.
Atau mungkin ia akan menahan tawa kecil dengan simpul di ujung bibirnya,
Lalu berkata bahwa waktu adalah hal paling ajaib.
Mungkin ia akan menaruh telapak tangannya di pinggang, mengingatkan seberapa tinggi badanku dulu sembari bertanya apakah adil jika waktu mengubah sosokku namun tak mengubah kehidupanku.
Mas Bumi,
Kamu benar. Kamu selalu sepenuhnya benar.
Namun kau tentu tau, menunggu bukan pekerjaan favoritku.
Mungkin tangannya akan mengepal keras.
Mungkin kedua rahangnya akan sekuat tenaga ia katupkan hingga garis kaku terlihat di pipinya.
Mungkin matanya akan menatap tajam seakan-akan hendak menguliti jalan pikiran dan jiwaku yang entah kenapa menjadi begitu lemah.
Atau mungkin ia akan menahan tawa kecil dengan simpul di ujung bibirnya,
Lalu berkata bahwa waktu adalah hal paling ajaib.
Mungkin ia akan menaruh telapak tangannya di pinggang, mengingatkan seberapa tinggi badanku dulu sembari bertanya apakah adil jika waktu mengubah sosokku namun tak mengubah kehidupanku.
Mas Bumi,
Kamu benar. Kamu selalu sepenuhnya benar.
Namun kau tentu tau, menunggu bukan pekerjaan favoritku.
Thursday, May 17, 2018
Jauh
102 days and tonight is the 4th time.
Banyak algoritma, atau barangkali perasaan, yang tak kunjung ku pahami. Jangankan mengantisipasi, membuat definisi saja aku tak mampu.
Terakhir. Aku harap.
Semoga tak ada yang kelima.
102 hari dan masih terus mencari definisi.
Banyak algoritma, atau barangkali perasaan, yang tak kunjung ku pahami. Jangankan mengantisipasi, membuat definisi saja aku tak mampu.
Terakhir. Aku harap.
Semoga tak ada yang kelima.
102 hari dan masih terus mencari definisi.
Sunday, April 15, 2018
Konser Mahal Pertama
Breakeven!
Breakeven!
Breakeven!
Selesai. Panggung sudah gelap. Tak ada lagi suara. Namun suara kompak ribuan manusia yang berdesakan pada malam itu, membuatku bersemangat untuk meneriakkan kata yang sama.
............
"As you wish!"
***
Selasa 10 April 2018,
Setelah perebutan tiket yang sangat heroik, lari-lari ke atm karena deadline cuma 5 menit, saldo nggak cukup karena gagal dapet harga presale,
Setelah membuat orang sekantor mengira aku tunangan akibat mengajukan cuti dua hari tanpa memberi alasan yang jelas,
Setelah drama deadline pekerjaan dibarengi dengan mengejar kereta pukul 19.30 di Stasiun Bandung,
Setelah menanti empat bulan lamanya,
Akhirnya bocah ingusan ini berhasil menyaksikan gigs band luar negeri pertamanya tanpa meminta sepeser pun uang dari orang tua.
Meskipun agak kaget karena ternyata orang-orang di sini punya cara yang berbeda dalam menikmati konser, aku tetap bahagia!
Dan saat kata-kata "As you wish!" keluar dari mulut Danny, aku meloncat-loncat setinggi-tingginya sambil berteriak.
Entah kenapa,
Meski selama konser aku tak henti-hentinya merinding bahagia,
Intro lagu ini selalu membuat bulu kudukku merinding, dada sesak, dan mata berkaca-kaca.
Tuhan maha baik.
Satu hari yang penuh emosi.
Satu lagi hari bahagia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
