Wednesday, May 20, 2020

Bermalam dengan Waktu



Sabtu sore berkunjung ke rumah Om.
Jauh dan tinggi. Dingin.
Rumahnya kecil sederhana sekali. Tapi cantik luar biasa.

“Sudah berapa tahun ya nggak ketemu?”

Lebih dari separuh umurku, mungkin?
Nyatanya setelah 7 bulan berada di Bandung, baru sekarang ku beranikan diri kesini.
“Beranikan diri” karena rasa-rasanya aku sudah tak kenal.
Ingatan terakhirku Om masih bocah, temanku bermain berlari-lari di rumah simbah.
Sekarang ia tinggal dengan seorang istri dan dua orang bocah.

“Kamu dulu sering banget lho main ke rumah, sebulan sekali kayaknya.”

Aku mengamati dua bocah 8 tahun dan 6 tahun yang sibuk.
Sibuk bertingkah mencuri perhatianku.
“Dulu pas sering main bareng itu kamu sekecil ini, ya?”

Aku memandang Hayu.
Benar-benar sudah lama. 

Makan malam paling hangat selama di perantauan.
Selain di rumah Mbah Ayah dan Mbah Atty tentu saja.
Hayu masih berusaha menghabiskan makanan di piringnya.
Sementara aku dan Bumi sibuk dengan Siput, kucing yang lambat.

Kamar Hayu diberikan untukku satu malam.
Cantik. Cantik sekali.

Rasanya ingin ku tinggali rumah ini beserta kehangatan di dalamnya.
Bumi bercerita apa saja dan banyak sekali.

“Dia suka cerita kalau sama tamu.”

Cerita, dan mengeluarkan semua buku dan mainan yang ia punya.
Berkeliling rumah, bulu tangkis, menggoda kucing, dan tertawa.

Pulang dengan hati bahagia.

Nanti,
Di masa depanku nanti,
Aku hanya ingin satu, yang seperti ini.
Aku ingin punya rumah sederhana nan cantik.
Ah, bukan.
Aku ingin jadi seperti Om dan Tante.
Ah, bukan juga.
Perasaan yang hangat dan menyenangkan bersama orang-orang kesayangan.


Monday, May 18, 2020

Kau Jemput Pulang

Jadi, pikiranku ini suka melanglangbuana terlalu jauh, penuh pertanyaan, lalu tersesat saking inginnya ku temukan jawaban entah apa.
Apalagi kalau sudah sampai di planet bernama sanding dan banding.
Nggak cuma tersesat, pake jatuh dan terperosok, udah gitu masih aja terus nyari.

Untungnya, kalo sudah duduk sama Levi dan sejumput keberuntungan, jadi bisa pulang lagi lho.
Padahal kitanya cuma ngobrol biasa.
Pemikiran Levi yang sederhana ini memang dosis yang tepat buat memulangkan milikku ke bumi.
Kayak, yaudah gapapa nggak ketemu li, ngapain nyari-nyari yang kita nggak tau.
Sungguh sebuah bukti bahwa kusutnya kepalaku adalah sebenar-benarnya lawan kata miliknya.

Kalau sudah berhasil dijemput pulang, nggak pernah tuh ku tanya habis main kemana.
Sudah lupakan saja, karena hidup bisa lho sesederhana ini.

Berhubung punyaku memang hobinya melanglangbuana,
Kalau mau keluyuran lagi kuberi tiket ke planet bahagia dan ku beri tahu jangan lupa untuk selalu pulang.
Jika karena satu dua hal akhirnya dia tersesat lagi, mari bersabar sampai aku dan Levi bertatap muka kembali hehe

Kalau kata Kurniawan Gunadi, beberapa hal memang hadir bukan untuk dipertanyakan, tapi cukup diyakini.
Seandainya kalimat itu ada umatnya, seribu persen ku jamin Levi imamnya.



Meski butuh waktu dan jutaan hal lain untuk bisa menyelami dan memahami isi kepalamu,
Terima kasih.


Sunday, May 17, 2020

Cukup

Belakangan ini aku belajar bahwa satu dua keinginan hanyalah jembatan.

Kemana?

Menuju penerimaan terhadap diri sendiri.
Karena pada akhirnya aku tak pernah benar-benar menginginkan sesuatu lebih dari merasa cukup dan damai.

"Apakah cita-citamu sudah tercapai?"
"Apakah sudah puas dengan dirimu?"
"Mau kemana setelah ini?"

Yang ku tau aku bahagia ketika tidak mengecewakan orang.
Aku bahagia ketika mempelajari hal baru.
Aku bahagia ketika orang-orang yang ku sayang sehat dan bahagia.
Aku bahagia ketika bersama anak-anak kecil. 

Dan aku akan terus melangkah dengan cara bahagiaku yang seperti itu.

Cukup.

Sunday, March 29, 2020

Mari

Kala riuh telah menjadi senyap

Kala satu dua cara tak lagi bekerja

Kala Yang Maha Mampu satu-satunya tempat menuju

Biar doa yang menembus
Biar doa yang menebus

Sampai nanti,
Sampai jernih,

Lalu kemudahan tergenggam penuh.

Mari, sayangku.


Tuesday, March 26, 2019

Si Sulung

Sejauh ingatanku dalam mengenal diriku sendiri, sifat keras adalah salah satu yang tak pernah ku lupa.
Setiap perdebatan yang kupahami, mengalah sangat jauh dari kamusku.
Kemudian kerap dalam satu dua hal lain, seperti demi menghindari konflik, aku akan tampak mengalah. Tampak. Meski sebenarnya tidak.

Dalam perjalananku mengarungi hidup yang begini-begini saja, di satu titik aku bertemu si sulung.
Setelah jutaan huruf menyusun kata, puluhan cangkir kopi, dan entah apa lagi yang telah kami lalui bersama, rasa-rasanya dia menemukan sesuatu yang selama ini tanpa sadar telah kucari.
Meski terkadang masih tak sependapat, aku lebih sering tampak tak mau kalah padahal diam-diam mengamini perkataannya.
Akhirnya, kata mengalah mulai masuk dalam kamusku. 

\
Selama ini aku mencari.
Sepertinya, si sulung telah berhasil.