Monday, May 9, 2011

I'm supporting myself

Inisiatif

&

Tulus




Berjuang sampai titik darah penghabisan. Semangaaaaaaaat!

Friday, May 6, 2011

Pelajaran Dalam Dua Hari

Dua hari ini bisa dibilang aku cukup tertekan. Rasanya seperti perasaanku membawa beban yang terlalu banyak. Serius. Dan karena itulah, dua hari ini merupakan dua hari penuh pelajaran bagiku.
Mungkin kalian sedang membayangkan ekspresi wajahku yang sedang menulis postingan ini. Perlu kalian tau, kebanyakan dari tulisanku di berbagai jejaring sosial bersifat menipu. Tak sama dengan aslinya.

Puncaknya adalah hari ini. Dampaknya sangat terlihat. Saat akan mengambil baju di lemari untuk mandi, aku malah membuka rak buku. Bukannya mengambil kaus dan celana, aku malah mengambil dua buah kaus. Di kamar mandi, aku memikirkannya hingga tak sadar bak mandi sudah luber. Kacau.

Air mata yang sempat keluar di depan teman-temanku bukan tidak ada artinya. Bukan karena aku marah atau karena aku menyalahkan. Tapi karena aku sadar sudah terlalu banyak keburukkan, kekecewaan yang ku ukir di hati orang lain.
Betapa aku telah membuat kesalahan kepada teman-temanku, kepada tiga orang itu, dan kepada sekolahku.


Dua hari ini, sedikit banyak merubahku.


Aku tertekan. Tapi memang itu yang aku butuhkan.
Tekanan. Pelajaran.

Monday, May 2, 2011

Pukul Dua Siang

Seperti yang kalian semua tau, aku adalah siswi salah satu SMA di Yogyakarta. Dan seperti yang kalian tau, umumnya kegiatan belajar mengajar pada siswa SMA berakhir pukul 2. Pukul dua siang.

Tapi si SMA N 3 Padmanaba Yogyakarta alias sekolahku ini, tak diragukan lagi sudah menjadi rumah keduaku. Dalam konotasi dan denotasi tentu saja. Kenapa? Karena biasanya aku menghabiskan 12 jam sehari di Padmanaba. Bahkan selama proses latihan pentas besar Jubah Macan, aku biasanya baru bertemu orang tuaku pukul 10 malam. Jadi keingetan dulu, saat dipulangkan pukul 8 malam saja kami menyebutnya "pulang pagi" :))

Dan jangan salah, aku sama sekali tidak tersiksa dengan rutinitas ini. Entah kenapa aku bahagia menjalani jam kerjaku yang bisa dibilang diluar wajar. Saking seringnya aku dan teman-teman pulang saat hari sudah gelap, kami terkadang justru merasa aneh jika hari masih terang dan tidak ada yang bisa kami kerjakan. Ujung-ujungnya kami biasanya berkumpul, ngobrol-ngobrol mulai dari hal ringan sampai masalah-masalah berat. Membunuh waktu dengan hal-hal positif.
Dampaknya? Jam kerjaku tak lagi layaknya siswa SMA. Berangkat pagi pulang malam sudah menjadi makanan sehari-hari. Hari Minggu tidak terkecuali. Bel pukul dua siang seperti sudah tak dihiraukan. Untung saja orang tuaku mendukung kegiatan-kegiatanku.

Meski begitu, terkadang ada juga keinginan untuk bisa menghabiskan waktu di rumah barang sehari. Bahasa gaulnya, jadi anak BBB (Bar Bel Bali). Setelah pentas besar selesai, aku sendiri alhamdulillah ada kesempatan paling tidak beberapa hari untuk pulang pagi. Tapi ya itu tadi, aneh rasanya jika pukul dua siang aku sudah berada di parkiran siap tancap gas pulang. Yaaah, lebih baik membantu teman-teman yang sedang banyak pekerjaan.

Oke, karena tidak tau harus menulis apa di bagian ending, aku tarik saja kesimpulanku sendiri. Daripada membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tidak bertujuan baik, lebih baik lakukan sesuatu yang jelas dan bermanfaat bagi orang banyak! ;)

Friday, April 22, 2011

Jubah Macan

Aku kosong dan buta.
Namun langkah kakiku terasa pasti.
Kiranya perasaan yang menuntunku.

Satu langkah.

Aku memasuki dunia yang berbeda. Dunia yang belum pernah kucicipi.
Sekali lagi, aku kosong dan buta. Tapi indraku merespon dengan luar biasa.
Segala susah terangkat, seakan terbawa angin entah kemana.
Sejuknya, bahkan tak mampu digambarkan.
Yang mata awam mampu lihat, bibirku tertarik ke atas tanpa sukar.
Apa yang orang sebut sebuah "senyuman" tertoreh indah di wajahku. Selalu.

Plak!
Rupanya nuraniku ditampar. Membuatku tersadar.
Hey, disinilah tempatku! Aku menemukannya!
Setidaknya sejauh ini, aku menikmatinya.
Aku. Bahagia.

Satu langkah.

Aku menemukan sebuah keluarga.
Tentu saja keluarga yang sesungguhnya, bukan sandiwara.
Ya. Aku tau kami suka bersandiwara. Tapi bukan berarti kami berbudaya dusta :))

Satu langkah.

Setelah cukup bersenag-senang dengan tujuan abstrak, kami mulai masuk ke sebuah perjalanan serius. Dengan tujuan kongkrit. Pasti.
Tekat kami memadat, menerjang serangan batin dengan peluh tak terbendung.
Demi sebuah persembahan kami pada mata luas. Sebuah panggung yang dikemas sebagai pertahanan eksistensi dan pengabdian sosial.

Aku mulai terisi. Tak lagi kosong dan tak lagi buta. Meski pandangan kabur, perlahan aku dapat meraba.

Satu langkah.

Disinilah kami. Berdiri di bawah sinar. Ratusan pasang mata memandang kami, dengan ekspektasi masing-masing.
Dan kami, melakukannya. Selesai. Menangis. Tertawa. Bahagia.
Baik buruk di mata awam akan berjuta jenis banyaknya. Kami tak banyak merespon, namun kami menampung dan menyimpannya di kantung motivasi. Lumayan, bekal makan di hari-hari selanjutnya.
Yang utama, kami bahagia.




-------------------------------


Entah masih berapa langkah lagi. Tapi Jubah Macan benar-benar membuatku jatuh cinta. Paling tidak sejauh ini. Segala tawa, tangis, dan kegilaan itu tidak mau keluar dari otakku.

Jubah Macan, dimana kamu dibuat sangat bahagia dengan cara dibuat miskin, stress, menangis, dan gila.



Akhir kata,
Salam Budaya!

Thursday, April 21, 2011

The Mad Hatter

I think I love The Mad Hatter so fucking damn much.

Satu-satunya yang bikin aku kecewa waktu film "Alice in the Wonderland" selesai adalah: I'll never see The Mad Hatter anymore.


Dan satu-satunya orang yang bisa disalahkan atas semua ini adalah: Johnny Depp. Dia bener-bener freaaaaaaaaaaaak. Semua karakter yang dia peranin dalam film apapun bisa bikin aku jatuh cinta


Ada yang pernah nemuin merchandise The Mad Hatter? Bonekanya terutama! Kabari aku segeraaaaaaaaa!