Friday, August 17, 2012

Watching Them Singing is Like Taking a Deep Breath

When I was in junior high school, I had a dream. Dream that never leave my mind even for a second:
Someday, somehow, I'll be in a music concert, in the stage, playing music with Chris Martin and Coldplay.

When I went to senior high school, I had another dream. Dream that never leave my mind even for a second:
Someday, somehow, I'll be watching Jason Mraz singing his song in front of my face.

And those dreams still stuck on my mind.

Saya pasti sangat bahagia ketika mimpi itu terkabul. And it's something worth fighting for, I guess. Coldplay dan Jason Mraz adalah dua musisi yang komplit menurut saya. I love their music, I love their characters, and I love the way they treat their fans. Dulu sekali, ketika pertama kali saya dengar suara Chris Martin, vokalis Coldplay, saya langsung tersihir. Dan semakin hari saya semakin tau, semakin suka dengan Coldplay. Begitu juga Jason Mraz.

Setelah Coldplay meluncurkan single kedua dari album Mylo Xyloto, Paradise, saya jadi semakin tergila-gila pada mereka. Mereka selalu punya nyawa dalam lagunya, their songs could take my soul. Karena sangat tidak mungkin ke Eropa untuk nonton langsung konsernya, saya akhirnya browsing di youtube, dan menemukan satu konser Coldplay di Spanyol, kurang lebih 1 setengah jam.




Langsung saya download, 640 MB. Setelah itu, saya tonton di laptop dengan headset sendirian. Saya merasa benar-benar ada di tengah-tengah orang-orang itu. Saya merasa benar-benar ada disana menonton konsernya secara langsung. Di depan laptop, saya lakukan apa yang biasa saya lakukan saat menonton konser. Ketika Chris Martin bernyanyi, saya bernyanyi. Ketika Chris Martin menyuruh penonton meneriakkan sesuatu, saya berteriak. Ketika musiknya mengalun, saya ikut lonjak-lonjak. It feels so close...

Call me crazy, tapi saya benar-benar menikmatinya. Mungkin saat ini mimpi saya belum bisa diwujudkan, tapi menghadirkan secuil impian merupakan kebahagiaan bagi saya.

And I hope someday I'll have some stories about a dream that comes true, to be written on this blog!

Will, Johnny, Guy, Chris

Friday, July 27, 2012

Tak Mau Berusaha Untuk Mampu Berpisah


Tadi sehabis tarawih bersama teman-teman, aku menyaksikan mereka bermain bola dengan begitu gembira di lapangan. Malam ini dingin sekali. Aku berdiri, memandang dari lantai atas, terpaku. Gelak tawa mereka saat itu membuatku tersenyum. Tersenyum ketakutan.

Melihat raut mereka yang begitu bahagia... Entah kenapa aku jadi benar-benar sadar. Bahwa kami sudah dewasa sekarang. Bahwa kami sudah kelas tiga SMA. Bahwa kami bukan lagi bocah ingusan yang bingung menentukan arah. Bahwa Padmanaba telah membesarkan kami hingga titik ini. Tuhan...... waktu benar-benar telah memanipulasi perasaan kita! Lihat wajah-wajah itu, wajah dewasa teman-temanku. Lihat pola pikir mereka, pikiran instan telah berganti menjadi penuh perhitungan meski masih kental dengan euphoria anak muda. Teman-temanku telah beranjak besar bersamaku.

Padmanaba dapurnya, kami persiapkan semua bersama, kami matangkan diri kami bersama, agar kelak semua tersaji dengan baik di meja kehidupan liar. Selama ini kami berpegangan, tak pernah lepas, beranjak bersama menuju kedewasaan. Tangan kami saling berkaitan, serempak kami tumbuh bersama, meski kami tak menyadarinya. Dengan semua kejadian itu, aku ingin bertanya, bagaimana bisa perasaan kami tidak satu?

Aku menyayangi kami tak semata-mata karena kebaikan. Aku menyayangi kami karena ada hinaan di dalam pujian. Aku menyayangi kami karena ada kesalahan di dalam kesempurnaan. Aku menyayangi kami karena ada tidak menyukai di dalam sangat mencintai. Aku menyayangi kami karena kami semua berbeda, dan perbedaan mengajarkan banyak hal.

Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana esok hari kita harus menghadapi kenyataan yang pasti adanya. Kenyataan bahwa kami harus mengambil jalan kami masing-masing, menuju mimpi kami. Sedetik pun aku tak mau berusaha untuk mampu berpisah.

Namun, apa yang bisa kulakukan agar perasaan ini kekal? Kekal, meski kelak tanah dan langit kami telah berbeda. Kami pernah merasakannya ketika meninggalkan bangku SMP dulu. Kami tau kemanusiawian perlahan akan menghapus memori emosional kami. Rasanya tak akan pernah sama, meski kami terikat.

Saat ini, kami disibukkan dengan persiapan masa depan. Masa depan yang memaksa kami meninggalkan zona nyaman. Kami jelas tak bisa berkilah dari yang satu ini, kan? Jadi, satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah berdoa.

Tuhan, aku tau saat itu akan datang. Saat dimana kami dipaksa berpisah oleh diri kami sendiri. Aku percaya Kau sutradara terbaik, skenarioMu yang terindah. Perpisahan selalu ada di setiap pertemuan. Kami tidak berhak menyalahi aturanMu. Maka, ajari kami tentang merelakan. Ajari kami tentang mengikhlaskan. Ajari kami untuk bersyukur. Sehingga ketika perpisahan itu hadir, yang kami punya adalah rasa syukur yang begitu besar karena telah dipertemukan olehMu. Rasa syukur karena telah diberi kesempatan hebat untuk bersatu. Dan semua akan terobati dengan sebuah kerelaan: air mata keikhlasan.

Tuesday, July 17, 2012

Jono Oh Jono

Sebelumnya maaf kalo judul diatas agak mirip sama Jinny Oh Jinny #krik

Sebenarnya, Jono adalah seekor angsa. Kenapa harus saya tulis di blog ini? Karena saya tertarik dengan kisah hidupnya yang complicated. Kenapa namanya Jono? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Before

Jadi, semua bermula ketika Om saya membeli sepasang angsa untuk dipelihara di rumah. Hal ini disambut baik oleh kedua anaknya, Yasmin (kelas 4 SD) dan Seruni (kelas 1 SD). Kedua anak ini lah yang kemudian bertugas memberi nama semua angsa yang mereka punya. Pasangan pertama angsa ini diberi nama Baba dan Nyaknyak (jangan tanya kenapa). Lalu, karena hubungan dua angsa ini sepertinya tidak harmonis alias gagal bertelur, si Om beli lagi sepasang angsa yang kemudian dinamai Bobo dan Bibi.

Singkat cerita, Bobo dan Bibi mesra sekali sehingga menetaslah 3 ekor angsa unyu hasil perkawinan mereka.  Dua jantan dan satu betina. Jantan pertama diberi nama Joyo, jantan kedua diberi nama Jono, betina satu-satunya diberi nama Nabila............................... #kemudianhening -_-

Sayangnya, nasib naas kemudian menimpa keluarga bahagia ini.

Nabila, anak paling ayu, harus mati mengenaskan karena kepalanya yang terluka sampai berdarah-darah. Kalo kata Om dan Ibu, Nabila mati karena namanya terlalu berat, kabotan jeneng -_-

Meskipun sedih ditinggal sodara, Jono tetap melanjutkan hidupnya dengan normal. Namun, suatu hari, terjadi sesuatu yang menggemparkan. Seorang kerabat mengatakan bahwa kelamin Jono adalah perempuan! Ternyata Jono telah salah teridentifikasi! Kedua adik sepupuku tadi tidak tinggal diam. Merasa nama Jono kurang tepat, mereka akhirnya mengganti nama Jono dengan nama perempuan yang lebih keren: Jennifer, atau panggilannya, Jean.

Lagi-lagi, jangan tanya kenapa -_-

Setelah kejadian itu, Jono Jennifer tetep melanjutkan hidupnya dengan normal lagi. Namun, suatu hari, Joyo juga harus berakhir menyedihkan karena ikut mati. Mulai dari sinilah Jono Jennifer mulai nakal. Hidupnya nggak tenang, suka mengganggu angsa-angsa lainnya. Om yang sudah kewalahan akhirnya membuat sebuah keputusan yang nggak kalah besar sama dekrit presiden: Jono Jennifer berakhir di pemanggang

Processing

After

Mengheningkan cipta, mulai...
*semua menangis*

Yak. Itulah wajah cantik terakhir Jono opo Jennifer terserahlah. Dan ini foto dua makhluk pembunuh pemberi nama angsa yang cukup handal

Seruni - Yasmin

Wednesday, June 27, 2012

Pasar Kangen Jogja!

Kemaren Rabu tanggal 20 Juni 2012, tepat seminggu yang lalu, saya pergi ke Pasar Kangen Jogja. Sebenernya acara ini sangat tidak direncanakan. Tadinya saya ke tempat Dhea balikin piring tempat kue ulang tahun saya, terus kita berdua ke tempat bimbel gitu, nemenin saya daftar. Ternyata diluar dugaan, daftarnya sebentar banget dan ketika keluar gedung bimbel, hening banget, perjalanan hari itu seperti anti-klimaks sekali. Akhirnya kita bikin-bikin acara, dan singkat cerita kita langsung cus ke Pasar Kangen.

Pasar Kangen Jogja 2012 adalah acara tahunannya Taman Budaya Yogyakarta. Kebetulan tahun ini diselenggarakan tanggal 19-24 Juni. Buat yang belum tau, konsepnya seperti Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Buat yang masih belum tau, disana dijual berbagai macam kerajinan, perabotan antik, barang-barang kuno, makanan-makanan tradisional dan lukisan juga. Selain itu, ada pameran kreatifitasnya juga. Oiya, ditambah ada panggung keseniannya. Intinya, tujuan dari acara ini adalah untuk mengobati kangennya masyarakat Jogja akan hal-hal yang berbau tempo dulu. Tempatnya di kompleks Taman Budaya Yogyakarta, ada yang di luar, di teras, ada juga yang di dalam ruangan.

Berikut beberapa fotonya:

Buku-buku, prangko, dll semuanya lawas 

Dhea dengan gaya sok Shinta

ember yang di pojok kanan itu bagian dari pameran lho

ini zona Kampung Nyutran dengan kerajinan layang-layang dan lukisnya

Gambar lucu di tas itu murni handcraft lho, pake semacam rafia warna warni gitu

Lukisannya super besar, panjang aslinya kurang lebih 3 kali yang ada difoto itu

zona Kampung Kricak dengan lukisan yang sama besarnya juga
 
Dhea bersama kerajinan-kerajinan unik dari koran dan kawat

Enaknya jadi orang Jogja. Kalo mulai masuk musim libur gini, bakal ada banyaaaak sekali event seni digelar dimana-mana. Hidup seniman Jogja!

Some Pictures from My Instagram

Mercusuar di daerah Kwaru. Selepas kegiatan Kajian Islam Intensif Padmanaba

Setelah sampe dipucuk mercusuar. Delapan lantai dengan tangga yang curam, lumayan menguras keringat

Tiresias versi gambaran saya

Di atas bukit di daerah Candi Boko. Ini naiknya lumayan menguras keringat juga

Seorang teman, sebut saja Ardita. Entah apa yang dia lakukan

gift from Richard. Kebetulan sempat bertemu dan meminta tanda tangan

Richard in action saat Shaggy Dog tampil di Pawitikra Revolution #3