Sunday, May 31, 2015

Nasib Puisi Gagal

Beberapa kata yang sudah lama saya susun secara iseng ini secara iseng pula saya kirimkan ke salah satu lomba puisi bermodal 15.000 rupiah tiap puisinya.

Sudah bisa ditebak namanya penulis iseng mana bisa menyaingi penulis-penulis jebolan ilmu budaya sana hehehe. Jadi ini puisi saya bocorkan ke sini saja ya, berhubung ada yang rikues untuk update blog juga.

Yang satu saya tulis di awal semester 3, ketika saya ingin sekali berubah, tak puas dengan pribadi yang begini-begini saja.
Yang satu lagi saya tulis karena ingin merepresentasikan kata-kata orang tentang jatuh cinta. Betapa bertemu idola bisa membuat lupa logika.



Menjadi Baik

Ini apa?
Menanam baru?
Atau mencabut lama?
Aku apa?
Padang rumput?
Atau pohon kelapa?



Jumpa

Berbicara lewat kaki
Telinga kiri mengecap gula
Menghitung rumus, hati
Otakku bergelora
Lidahku dengar musik rock
Tangan melihat negara bobrok
Kamu mencari logika?
Sudah lama kutinggal ia

Friday, April 10, 2015

Ngomong Soal Banjir Jakarta


Empat semester di Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM. Sudah beberapa mata kuliah tentang air. Sungguh ilmu yang satu ini hitungannya sangat tak manusiawi. Namun pemahaman dan manfaatnya memang sedikit membuat hati saya terpikat. Salah satunya ketika hampir semua dosen mata kuliah air di awal perkuliahan akan bercerita tentang banjir Jakarta.


Ah, lagi-lagi kombinasi dua kata itu. Banjir. Jakarta.

Saya memang bukan penghuni ibu kota, namun rasa-rasanya semua orang familiar dengan "frase" tersebut. Entah kapan dua kata itu bisa dipisahkan.

Lalu, kenapa sih Jakarta banjir?

Menurut cerita dari beberapa dosen saya di kelas, ternyata banyak hal yang menyebabkan suatu daerah menjadi rawan banjir, khususnya di Jakarta. Saya mau cerita beberapa diantaranya.

Curah hujan
Jakarta memang memiliki curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Jogja. Tingkat curah hujan di Jakarta bisa dua kali lipat curah hujan di Jogja.

Jenis tanah
Tanah memiliki kemampuan untuk meloloskan air, atau bahasa ilmiahnya, permeabilitas. Berbeda jenis tanah, berbeda pula koefisien permeabilitasnya. Sebagai contoh, jika kita menuangkan air ke tanah lempung, air pasti akan menggenang dan butuh waktu lama untuk terserap. Berbeda jika kita menuangkan air ke tanah berpasir, tentu air akan cepat terserap ke dalam tanah. Kira-kira begitulah kondisi tanah di Jakarta dibandingkan dengan di Jogja.
Dalam waktu 1 jam, ketinggian genangan di Jogja akan turun sekitar 30 cm. Sedangkan di Jakarta, mungkin hanya 0,000001 cm.

Elevasi tanah
Sebagian wilayah Jakarta memang dataran rendah, bahkan elevasinya berada di bawah permukaan laut. Sudah seperti mangkuk saja haha.

Tata guna lahan
Ketika hujan turun, sebagian air akan meresap ke tanah, sebagian lainnya akan mengalir/melimpas. Perbandingan jumlah air yang melimpas dan jumlah air hujan yang turun disebut keofisien limpasan. Semakin tinggi koefisien limpasan, tentu akan semakin rawan terjadi genangan.
Sekarang anda bisa bayangkan bagaimana permukaan tanah di Jakarta telah banyak tertutup lapisan beton, menyebabkan koefisien limpasannya tinggi. Bandingkan dengan daerah yang sawah dan hutannya masih terjaga.

Sesungguhnya Jakarta ini memang telah dianugerahi kondisi alam yang bakat banjir ya hehe


Lalu, ada 13 sungai yang melintasi Jakarta, yang salah satunya paling terkenal memprihatinkan adalah Sungai Ciliwung. Padahal, zaman dulu seorang pedagang Perancis pernah menuliskan bahwa Sungai Ciliwung memiliki air paling bersih dan paling baik di dunia. Kayak mimpi ya? Hahaha.

Jika anda tau kanal barat dan kanal timur yang dibuat untuk mengalirkan air sungai lewat luar Jakarta, meski terus dikembangkan oleh pemerintah Indonesia, namun gagasan awalnya bukan dari kita, melainkan dari pemerintah Belanda pada masa penjajahan dulu. Gagasan itu rilis tahun 1920 setelah 2 tahun sebelumnya terjadi banjir besar. Itu berarti, tahun 1918 Jakarta sudah dilanda banjir besar. Bahkan di tahun 1600-an Jakarta juga sudah mengalami banjir.

Hikayat banjir Jakarta dari era Jenderal Coen sampai Jokowi


Pencegahan banjir yang berupa fisik saat ini juga pasti sulit. Untuk sekedar membuat kolam retensi/embung di Jakarta, saya sudah bisa membayangkan keruwetannya. Pasalnya, proyek-proyek pembangunan seperti itu biasanya separuh dari anggarannya adalah untuk pembebasan lahan. Sudah sering lihat alotnya pembebasan lahan di berita-berita, kan?

Baru ngurusin air saja sudah begini. Sudah kondisi alam tidak mendukung, ditambah masalah-masalah yang timbul akibat kepadatan penduduk saat ini, penyempitan sungai, sampah, sistem drainase, dll., wah nggak bayangin pusingnya jadi gubernur Jakarta hahahaha


Ikut pusing ya jadinya :))


Boleh sih mikir pusing, ribet, repot, semrawut, dan lain lain, tapi kita tetep harus melek soal beginian. Saya cuma menghimpun info dan memaparkan ulang saja, supaya paling tidak, bertambah orang-orang yang mengerti tentang kerepotan di ibu kota sana, yang mungkin bisa terjadi di depan rumahmu jika tidak dipahami.

Koreksi saya jika ada yang salah. Apalah arti tulisan seorang mahasiswa semester 4 yang nilai mata kuliah hidrologinya saja pas-pasan.


Semoga semakin banyak di luar sana yang mau peduli air.

Sumber:
Kuliah Pak Joko, Pak Rahmad, Pak Budi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kanal_Banjir_Jakarta
http://koran-jakarta.com/?3813-akar%20banjir%20jakarta
http://green.kompasiana.com/polusi/2012/12/04/kontroversi-sungai-ciliwung-dan-kampung-deret-508086.html
http://www.tempo.co/read/kolom/2015/02/23/1963/Sejarah-Banjir-Jakarta
http://www.satire-indonesia.com/2015/02/berita-satire-banjir-jakarta-februari-2014.html
http://forum.detik.com/foto-foto-jakarta-dan-sekitarnya-tempo-dulu-posting-aja-kesini-t19743p49.html

Saturday, March 14, 2015

Jangan Terlalu

Pegang tanganku
Hentikan tawamu sejenak
Sudah terlalu banyak tuk senang
Sudah saatnya merenung dan bersyukur

Oh.. Indahnya menjalani denganmu
Oh.. Nikmatnya bersamamu
Tapi kita harus mulai mengerti
Tapi kita harus mulai batasi
Karena..

Indah itu tak selalu ada
Senang itu sementara
Jika senang jangan terlalu
Jika sedih jangan terlalu

Oh.. Indahnya menjalani denganmu
Oh.. Nikmatnya bersamamu
Tapi kita harus mulai mengerti
Tapi kita harus mulai batasi
Karena..

Indah itu tak selalu ada
Senang itu sementara
Jika senang jangan terlalu
Jika sedih jangan terlalu

Sederhanakan diri
Di depan masih panjang
Karena hidup tak hanya senang dan indah
Indah dan senang
Senang dan indah




Good things come hard.

Bukannya tak menikmati yang indah. Hanya memahami yang pilu.

Perjuangan. Pengorbanan. Bukankah itu inti dari kebaikan dalam hidup?

Merenung, bersyukur, sederhanakan diri.



Lagu ini. Hebat.

Terima kasih, Angga, Kupit, dan Bagus.

soundcloud.com/nosstress/pegang-tanganku

Thursday, February 19, 2015

How a Superhero Learns to Fly

She's got lions in her heart
A fire in her soul
He's a got a beast in his belly
That's so hard to control
'Cause they've taken too much hits
Taking blow by blow
Now light a match, stand back, watch them explode

When you've been fighting for it all your life
You've been struggling to make things right
That's how a superhero learns to fly

Wednesday, February 18, 2015

Ubah

Ini bukan tentang Ultraman Gaia
Atau Power Ranger Dino Charge
Bukan.
Bukan pula tentang perputaran
Akhirnya akan kembali lagi
Bukan.
Bukan pula perubahan fisika
Mempermainkan wujud zat cair
Bukan.
Ini seperti metamorfosis
Ulat pemakan menjadi kupu penyerbuk
Buruk menjadi indah
Ini seperti perubahan kimia
Ketela jadi tape
Kedelai menjadi tempe
Ini seperti....
Ah sebut saja ini seperti manusia
Manusia yang ingin mengangkat derajatnya
Manusia yang ingin lebih bermanfaat
Manusia yang ingin lebih bahagia dalam arti yang sesungguhnya
Manusia yang ingin berubah
Begitulah.