Wednesday, December 30, 2015

Memaknai Karya

Dalam kejadian, perasaan, hidup, setiap orang akan menciptakan makna sendiri melalui kacamatanya masing-masing.

Seperti halnya yang terjadi denganku dalam memaknai karya. Film.


Seorang sutradara pasti memiliki misi. Misi menyampaikan rasa kepada orang banyak lewat karyanya.
Namun, sutradara tetap manusia. Seapik apa pun garapannya, selugas apa pun kontennya, intinya, sekeras apa pun ia berusaha, sutradara nggak akan bisa memaksa penonton secara seragam menangkap apa yang ia rasakan.

Penonton, punya hak penuh atas kegiatan memaknai film. Seliar apa pun itu.

Seperti aku dan film Laskar Pelangi.
Ada yang memaknai film ini sebagai potret tragedi pendidikan Indonesia.
Ada pula yang beranggapan film ini mengajarkan ketulusan, cinta kasih seorang guru.
Ada yang terinspirasi oleh persahabatan dan perjuangan anak-anak miskin.
Dan masih banyak lagi.
Aku sendiri, memaknai film ini sebagai sebuah pukulan dashyat tepat di tenggorokanku.
Sebuah karya yang membuatku tersadar bahwa sekolah adalah sebuah kenikmatan yang tak terkira, sekaligus sebuah tanggung jawab yang luar biasa.

Ah, sungguh memaknai film membuatku menjadi orang kaya.
Kaya hati akan emosi dan motivasi.

Karena sesungguhnya semua hal yang diciptakan dari hati, bagaimana pun bentuknya nanti, pasti akan sampai ke hati juga.
Jadi, apa pun makna yang kamu dapat, bila itu benar-benar sampai ke hatimu, berpeganglah.

Wednesday, November 18, 2015

What are we doing?

"We used the word "family" but we didn't feel it."

I was in the middle of a conversation with a friend, when suddenly I realized we've spent years working together yet we didn't know each other as if we were family.

The main point of joining a community is supposed to be making new friends, creating good relationships, and knowing people around you as much as you can. But here we are, trapped in a system that make us focus on projects with our own ego, instead of gaining the main point.

In the end, we didn't get the joy of getting new friends.
We created hate and disunity behind.

And I refuse to go with the system. The hate and discomfort, I convince myself that those are not my goals. I want to make friends, a lot of them. And ego wouldn't help me.

Yes, sometimes people disappointed us, I felt them too. However, it's not worth to make it everlasting because I am so sure the disappointment came from working together for some projects that couldn't even define the real us.

I decided to stop the system and fix things that already happened.
Shut your ego and start to know each other.

Monday, October 26, 2015

La historia me absolvera.




Sebuah lagu yang saya ketahui ceritanya dari Banda Neira.
Lagu apik sarat makna yang dinyanyikan ulang oleh mereka.
Hanya itu yang bisa saya rasakan, sampai akhirnya kemarin Sabtu.

Saya menyaksikan langsung lagu itu dilantunkan.
Sebuah lagu yang setelah saya saksikan dengan mata, hati, dan telinga, sangat magis.

Saya pejamkan mata. Dan. Bergetar.



Sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa pasca terjadinya tragedi 1965, negeri ini begitu mencekam karena tindakan tidak manusiawi. Banyak sekali tahanan politik yang menjadi korban ketidakadilan, baik secara fisik maupun psikis.

Tini dan Yanti adalah salah satu lagu dibalik ruji penjara tahanan politik Pekambingan, Denpasar.
Lirik yang ditemukan di dinding penjara ini, ditulis oleh seorang ayah yang dijebloskan ke penjara ketika istrinya sedang hamil. Tini adalah nama istrinya, dan anak yang masih di dalam kandungan, ia bayangkan sebagai Yanti. Lirik yang merupakan pesan untuk anaknya, bahwa ayahnya tidak jahat. Bahwa ayahnya berjuang melawan ketidakadilan. Dan ia percaya, bahwa di masa yang akan datang, sejarah akan membebaskannya. Pesan seorang ayah pada anaknya, yang akhirnya tak sempat bertemu karena terlanjur dieksekusi.

Ada baiknya, anda menyimak artikel disini.



Tini dan Yanti, kepergianku buat kehadiran di hari esok yang gemilang.
Jangan kecewa, meski derita menantang, itu adalah mulia.
Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang.
La historia me absolvera,





La historia me absolvera.
Saya tak akan repot-repot memperjuangkan hidup jika sebagian waktu hidup saya habiskan untuk membenci dan mendendam.
Saya percaya saya dilahirkan bukan untuk menjadi seorang pembenci.
Saya percaya saya dilahirkan untuk menjadi berguna bagi sesama.

Friday, October 16, 2015

Tanggung Jawab

Lima hari terakhir, adalah lima hari yang cukup emosional bagiku.

Dua tanggung jawab besar diberikan padaku.

I'm happy and scared at the same time.


Yet, I understand what people say now.
That if your goals don't scare you, they aren't big enough.
And these two things, are worth fighting for.