Tuesday, May 24, 2016

Aku dan Nosstress

Ini cerita tentang satu lagi hari Sabtu yang penuh kebahagiaan.

Sebelumnya, aku mau cerita dulu tentang satu grup musik yang amat ku kagumi.


Nosstress

Aku baru ingat.
Pertama kali mengenal Nosstress, adalah saat aku mengunjungi tulisan Rara Sekar. Disana Rara Sekar menuliskan bahwa ia mengagumi band asal Bali ini.
Dan ketika mencari tau lagu-lagunya, aku langsung jatuh cinta.

Bagiku, Nosstress tak hanya menawarkan musik yang indah, namun juga membawa misi dari hati melalui lirik yang mereka ciptakan. Misi yang mulia, yang bisa membawa perubahan besar bagi siapa saja.

Ketika album kedua mereka lahir dan lagu Pegang Tanganku mulai beredar di internet, aku langsung menabung dan bertekad membeli original CD-nya. Dan setelah mendengar 10 lagu secara komplit, aku bersyukur menghabiskan 45 ribu rupiah dengan sangat bijak.

Nosstress sudah cukup tenar di Bali sana. Sayangnya belum terlalu dikenal oleh teman-teman dan lingkunganku. Belum cukup kiranya cinta orang Jogja untuk mengundangnya bernyanyi di sini. Harus ku pendam dulu.

Sampai akhirnya, Sabtu, 21 Mei 2016.
Mereka diundang tampil di Solo.
Aku membeli tiketnya jauh-jauh hari. Menandai kalenderku. Menyiapkan CD untuk di bawa.
Intinya aku tidak sabar.

Hari itu, pukul 5 sore aku berangkat sendiri, mengendarai mobil selama tiga jam melalui macetnya jalanan Jogja-Solo di malam Minggu. Aku ingin menikmati momen magis ini sendiri.

Sampai disana, aku tidak menyangka. Aku terkejut sekaligus bahagia.
Turns out there are so many people love them just like the way I do.
Ternyata banyak penonton yang hadir malam itu.
Ratusan penonton menanti mereka, ikut bernyanyi dan berbahagia.
Karya mereka dinikmati banyak orang, dan itu membuatku bahagia!

Bahkan di luar ruangan Nosstress di backstage, aku bertemu beberapa orang yang melakukan hal yang sama denganku: membawa CD milik mereka dan menanti untuk dilegalisir.
Tiga orang mas-mas yang ada di situ sama denganku, datang jauh-jauh dari Jogja untuk Nosstress.
Ah, aku bahagia sekali!

Malam itu sungguh sempurna.
Aku berdiri tepat di depan panggung. Dan hanya mengambil satu foto ini saja, karena tak mau menyianyiakan kehadiran mereka di depanku.


Di depan mereka, di tengah lantunan lagu mereka, I did close my eyes a few times. Because sometimes, you can't enjoy a heart-made work with your eyes only. You need your soul. And your heart.
Karena apa yang dibuat dari hati, pasti akan sampai ke hati.

Kupit, Man, dan Cok hadir di depan mataku dan mengisi hati semua orang yang ada di sana.

Seusai acara, aku berjalan menuju backstage mencari ruangan Nosstress.
Setelah selama ini mengikuti akun sosial media mereka, video-video mereka, aku bisa membayangkan mereka akan sangat ramah dan dengan senang hati melayani penggemarnya untuk sekedar foto dan tanda tangan. Seperti apa yang dilakukan Silampukau, band lain yang malam itu turut meramaikan panggung juga, yang dengan senang hati ke luar ruangan membaur bersama penggemarnya.

Malam itu, Nosstress mengurung diri di ruangannya dan "sedang tidak bisa diganggu karena lelah", kata panitia.
Tentu aku dan mas-mas yang sudah menanti di depan pintu sedikit kecewa. Aku bukan kecewa karena tak mendapat foto dari mereka. Aku terkejut karena sikap mereka tak sesuai ekspektasiku.
Akhirnya, aku dan mas-mas tadi hanya bisa menitipkan CD kami untuk dibawa masuk oleh panitia.

Aku jadi ingat momen dua kali aku menonton Banda Neira, mereka selalu turun ke bawah panggung setelah selesai tampil untuk membaur dengan ratusan penonton, meski dengan muka sangat lelah (bisa terlihat dari mata Nanda di fotoku bersama mereka).

Ah, tapi tidak apa.
I keep telling myself: mungkin mereka punya alasan lain yang tak ku ketahui. Aku hanya terkejut karena tak sesuai ekspektasiku. Itu saja.

Hal itu tidak mengurangi kesempurnaan malam itu.
Malam yang tidak terlupakan.
Malam yang sesungguhnya sudah pagi karena aku baru beranjak pulang pukul 00.30.

Terima kasih Bli Kupit, Bli Man, Bli Cok,
Karena telah ada dan mengisi hati kami dengan musik yang bergizi.

Dan untuk teman-teman yang membaca ini,

Keberuntungan Berbuah Kehormatan

Tanggal 7 Mei yang lalu adalah satu hari tak terlupakan.

Sejak almarhum guru Bahasa Indonesia-ku di SMP, aku belum menemukan seorang pengajar yang begitu mempengaruhi hidupku.


Sampai akhirnya bertemu beliau.
Seorang yang begitu aku kagumi integritas dan pola pikirnya yang terlampau unik.

Sabtu, 7 Mei 2016 satu kejadian berharga terjadi dalam hidupku.
Ini bukan sebuah prestasi, semata-semata sebuah keberuntungan yang berbuah kehormatan.
Kehormatan yang mungkin tidak dirasakan ketika orang tersebut bukan orang yang Anda kagumi sejak lama, sejak pertama berjumpa.
Sampai detik ini aku masih bisa merasakan detak jantung yang tak bisa kukendalikan ketika mengundang beliau naik ke panggung dan duduk 30 cm di sebelah kiriku.

Although I kinda messed that thing up, at least I know that I did my best trying to control myself :))
And I would never call it as a mistake since "Mumpung masih mahasiswa, keluarkan 1001 kesalahan Anda." is one sentence I live by. Yang selalu ia ucapkan saat kuliah.
It was still one of the best experiences I've ever had!


Sunday, April 3, 2016

Apa yang Lebih Romantis?

Apa yang lebih romantis dari duduk diam merenung tentang hidup, kebenaran, dan kemanusiaan di Lembah Mandalawangi?

Entah.
Paru-paruku bahkan belum sekalipun menghirup udaranya.
Hanya sesekali anganku mendarat disana,
Bersama harapan suatu saat menjadi nyata

Ah.
Atau mungkin,
Mungkin aku tau jawabannya.

Duduk diam merenung tentang hidup, kebenaran, dan kemanusiaan di Lembah Mandalawangi,

Bersamamu,
Sosok yang bahkan belum ku kenal.

Kaya Hati

Banyak yang bilang mahasiswa itu mengenaskan. Tuntutan banyak, reward minim, uang masih minta orang tua. Tidak berdaya, tidak punya andil dan peran yang berarti.

Tapi justru masa ini tercipta dengan sempurna.
Mumpung masih di bawah, mari perkaya diri.
Mumpung tak punya motif-motif pribadi, mari mencari arti.
Jangan hanya perkaya ilmu, tapi yang terpenting,

Perkaya hati.

Memperkaya hati bagaikan sebuah investasi, yang hasilnya akan Anda petik jauh hari nanti, ketika tak lagi punya waktu basa-basi.

Biar besok kalo diberi kekuasaan nggak goblok-goblok amat.

Menonton film ini adalah salah satu caranya. Memperkaya hati dan memberi nutrisi pada diri Anda. Anda akan menemukan sudut pandang yang berbeda.
Setelah itu, selamat berpikir.

Semoga kita menjadi profesional yang kaya hatinya.


Tuesday, March 15, 2016

Perbincangan Bergizi

Pertengahan Februari lalu saya berkunjung ke ibu kota bersama beberapa teman baru.
Kami kebetulan baru saling berkomunikasi dan mengenal satu sama lain selama kurang lebih beberapa minggu saja.

Singkat cerita, malam itu saya dan dua orang teman "terjebak" dalam sebuah percakapan setelah makan malam di sebuah mall di Bogor. Dan malam itu, setelah beberapa topik bahasan yang cukup ringan bahkan terkadang tidak relevan, kami mulai beranjak ke sebuah topik yang cukup lucu:

"Menurutmu, apa yang salah dengan Indonesia saat ini?"

Wah, sekelompok mahasiswa ingusan semester 6 berusaha memecahkan permasalahan fundamental bangsa.

Lucu kan?

Dengan background pendidikan kami yang amat sangat berbeda, ditambah pengamatan masing-masing, kami mengutarakan pendapat dan berdiskusi. Like, literally, diskusi untuk berbenah secara realistis dan apa yang akan kita lakukan nanti ketika kerja untuk memulai semua itu.

Hahahahaha

Aku kangen punya temen yang bisa diajak berbicara bahasan-bahasan sampah, namun juga concern di topik-topik masif dan krusial. Yang asik diajak bercanda, tapi juga seru diajak berpikir kritis dan membincangkan sesuatu yang mungkin banyak orang menganggap kaku atau terlampau serius.

Menurutku, that kind of conversation lumayan menyehatkan, bergizi, dan terkadang menjadi pengingat diri sendiri untuk terus bergerak maju.

Dulu di SMA pernah punya teman-teman yang seperti itu.
Semoga lain waktu bisa "terjebak" lagi dengan orang dan topik yang sama serunya.